Neo-Psychedelia: Revivalis Kejayaan 'Rock Teler'

  • By: OGP
  • Rabu, 6 December 2017
  • 3042 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Berbicara tentang lanskap rock, tentu tak lepas dari entitas bernama psychedelic. Di medio 60-an, musik ini jadi fenomena kultural di berbagai belahan zona Amerika dan Eropa. Lewat raungan sound mengawang, serta balutan lirik surealis jadi ciri tersendiri untuk menafsirkan muatan psychedelic itu sendiri secara konteks musikalitas. Tanpa disadari, psychedelic berhasil menjebak para penikmatnya untuk merasakan ‘sensasi’ berbeda di tiap not lagu mereka.

Kancah psychedelic tak serta-merta langsung menuai popularitas. Diakui sederet nama-nama prominen semacam Pink Floyd, The Beatles, Jefferson Airplane, The Doors, hingga Cream mutlak ditasbihkan sebagai figur sentral dalam ekspansi psychedelic di jagat planet. Tak heran dengan segala konsistensi dan jutaan pengikut setianya, sampai detik ini kancah psychedelic tetap dianggap sebagai salah satu pilar ranah rock.

Kendati demikian, psychedelic sempat menuai kontroversi lantaran kerap diasosiasikan sebagai musik pemabuk. Bukan tanpa alasan. Di luar konteks musik, awal mulanya psychedelic adalah sebuah kultur aliran seni yang pertama kali muncul di penghujung era 50-an. Seni ini bersumber pada implikasi manusia kepada efek ketidaksadaran atau halusinasi.  Di pertengahan periode 60-an, ledakan itu pun perlahan muncul. Di Amerika dan Inggris, aliran seni ini pun akhirnya mulai memengaruhi jiwa kaum muda.

Kultur psychedelic mulai menggebrak norma, sehingga mereka yang ‘terjebak’ tak ingin ada lagi adanya kekangan individu. Asumsi mereka adalah kebebasan yang riil. Perlahan namun pasti, psychedelic mulai menjamur jadi gaya hidup di dunia bagian Barat. Bagi mereka, mengonsumsi narkoba adalah sebuah kegiatan ‘spiritual’, mencari jati diri yang masih bersemayam di dalam jiwa.

Di kalangan musisi, barang haram yang paling populer kala itu adalah LSD. Mereka percaya bahwa dengan mengonsumsi obat-obatan halusinogen tersebut dapat memicu daya imajinasi dan kreativitas dalam menciptakan karya musik. Konon, John Lennon pun mengaku sering menggunakan LSD untuk mencari ilham dan menulis materi-materi lagu di album legendaris The Beatles bertajuk Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967). Lantas terciptalah lagu “Lucy in the Sky with Diamond” yang merupakan akronim parodi dari diksi LSD.

[bacajuga]

Namun seiring bergulirnya waktu, ingar-bingar kancah psychedelic rock mulai kian perlahan redup dan ditinggali para penggemar rock. Di pembuka era 70-an, agresivitas kancah-kancah rock seperti hard rock, heavy metal hingga punk rock mulai padu menjatuhkan singgasana psychedelic di podium jagat rock.

Di sepanjang era 70-an, psychedelic rock menghilang bagai ditelan bumi. Banyak faktor yang mengakibatkan musik ‘spiritual’ ini digerus zaman. Di kala itu, pemerintahan Inggris dan Amerika Serikat dengan tegas menetapkan jika penggunaan LSD ilegal bagi warga sipil. Belum lagi ditambah dengan kasus pembunuhan aktris Sharon Tate dan Kelurga LaBianca yang digencarkan Charles Manson dan pengikut sekte sesatnya.

Bukan jadi rahasia umum, jika Manson sendiri merupakan salah satu figur musisi psychedelic folk di zaman itu. Selain itu kematian jajaran punggawa psychedelic seperti Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Jim Morrison juga turut berperan atas kemerosotan kancah psychedelic di mata dunia. Dekade 70-an seakan jadi penanda runtuhnya era psychedelic. Para pegiat psychedelic itu pun mulai berpindah haluan dan menciptakan subgenre musik baru semacam progressive rock, krautrock, electronic, funk hingga glam rock.

Maju di periode awal 80-an. Sisa-sisa peninggalan psychedelic mulai perlahan dibangkitkan kembali oleh segerombolan pengikut setianya. Masih mengusung sisi eksotis dan trippy ala psychedelic, segelintir revivalist ini coba menghidupkan kembali kancah musik yang telah lama terkubur itu ke dalam bentuk neo-psychedelia. Para band ‘juru selamat’ ini seakan masih menjaga tradisi sakral dengan memadukan banyak elemen musik rock meliputi alternative rock, punk rock dan tentunya sentuhan surealis psychedelic rock era 60-an.

Di kala itu, gelombang neo-psychedelia mulai berkeluaran dari sarangnya. Di tanah Britania Raya, band-band semacam Echo & the Bunnymen, the Teardrop Explodes, dan The Soft Boys membuka jalan buat pegiat neo-psychedelic di ranah post-punk. Tak lama kemudian, gerakan bernama Paisley Underground lahir di belahan Amerika Serikat dengan membawa etos psychedelic yang kentara. Paisley Underground kaya akan harmoni vokal dan gitar. Band-band seperti The Bangles, The Dream Syndicate dan Rain Parade merupakan salah satu dari sekian figur penting di dalamnya.

Tak berhenti sampai di situ, kancah neo-psychedelia kian menebar gaungnya di belantara industri musik. Di medio 80-an, neo-psychedelia melahirkan sederet band-band muda potensial sekaligus jadi penanda generasi emas kembalinya entitas psychedelic. Unit-unit rock ‘teler’ seperti The Flaming Lips, Spacemen 3, Butthole Surfers Primal Scream, Mercury Rev, hingga The Brian Jonestown Massacre muncul dengan mengusung musik yang lebih gelap, druggy, dan surealis.

Kedigdayaan kancah neo-psychedelia di ranah independen makin menjadi, ketika melahirkan sub genre baru bernama shoegaze di penutup era 80-an. Jajaran grup-grup tenar seperti My Bloody Valentine, Ride, Lush, Chapterhouse, dan Slowdive cukup terinspirasi oleh elemen neo-psychedelia di dalam muatan musik yang mereka mainkan.

Sementara itu, di era 2000-an kancah neo-psychedelia masih tetap bergema dan kian menunjukkan taringnya di belantika. Tame Impala, Animal Collective, MGMT, Temples, dan Pond adalah sekian banyak dari juru selamat psychedelic di generasi saat ini. Mereka masih mengibar panji psychedelic di industri musik dunia, dan pastinya tetap mempertahankan tradisi suci nan ‘spiritual’ penuh fantasi.

Berikut daftar album neo-psychedelia esensial:

1. Echo & the Bunnymen - Crocodiles (1980) / Korova

2. Spacemen 3 - The Perfect Prescription (1987) / Glass

3. Primal Scream - Screamadelica (1991) / Reprise

4. The Brian Jonestown Massacre - Their Satanic Majesties’ Second Request (1996) / Bomp!

5. Spiritualized - Ladies and Gentlemen We Are Floating in Space (1997) / Dedicated

6. The Flaming Lips - The Soft Bulletin (1999) / Warner Bros.

7. Animal Collective - Merriweather Post Pavilion (2009) / Domino

8. Tame Impala - Lonerism (2012) / Modular



    0 Comments

Latest News