Forbidden Songs: Kisah Lagu-Lagu yang Pernah Dilarang Terbit

  • By: NND
  • Selasa, 5 March 2019
  • 1218 Views
  • 0 Likes
  • 1 Shares

Isu dan fenomena pelarangan dan pembatasan musik bukanlah angin baru bagi telinga-telinga kita. Nyatanya, musik kerap kali dibatasi oleh aturan-aturan pemerintah. Bukan hanya di dunia permusikan internasional, di Indonesia pun masih terasa bekas-bekas 'pertarungan' itu (Koes Ploes, larangan musik barat oleh presiden Soekarno, dll).

RUU Permusikan yang mengguncang kancah permusikan lokal menjadi salah satu titik segar paling kontroversial dalam permasalahan ini. Baru-baru ini muncul lagi kasus terbaru, yaitu pembatasan dimainkannya musik berbahasa Inggris di radio-radio Jawa Barat oleh KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah).

Terhitung sebanyak 17 lagu, seperti "Mr. Brightside" (The Killers), "Shape of You" (Ed Sheeran), dan "Versace on the Floor" (Bruno Mars) masuk ke daftar lagu-lagu yang perlu dibatasi. Dilatari alasan bahwa lagu-lagu ini berisikan pesan yang tidak senonoh bagi mereka yang belum cukup umur, karya-karya ini hanya boleh disiarkan di atas jam 12 malam.

Apakah benar pembatasan, atau bahkan pelarangan, terhadap sebuah karya musik itu akan mengarah ke situasi yang lebih baik, atau justru sebaliknya? Mengingat kemajuan teknologi yang mempermudah akses-akses atas banyak hal (tidak terikat dengan musik saja), apakah pembatasan dan larangan masih relevan? Apakah cara lain bisa lebih baik?

Sembari berdebat; mari kita simak, buah pikir brilian hasil musisi hebat apa sajakah yang pernah terkena larangan siar.

***

1. N.W.A. - “F__k Tha Police” (1988)

Grup rap/hip-hop dari Compton, L.A, ini merupakan kolektif yang lantang menerobos larangan dan pembatasan konten oleh badan sensor, aparat keamanan, bahkan pemerintah sekalipun.

Maju dengan lirik-lirik kasar, mereka melepas bait demi bait dengan permainan frasa yang apik untuk menceritakan keseharian mereka, baik soal sudut pandang sosial, politik, atau budaya.

N.W.A bermusik dengan jujur, bahkan mungkin terlalu jujur. Kehidupan masyarakat kulit hitam di Amerika era 80-an memang sulit dilepaskan dari kekerasan aparat.

Puncaknya, pada tahun 1987, polisi L.A. meresmikan Operasi Palu (Operation Hammer) yang berujuan untuk memerangi geng-geng jalanan yang sedang marak. Hasilnya brutal, dan operasi itu berhasil memaksa para remaja. Namun tidak bagi N.W.A, yang memiliki kekuatan dan suara lantang melalui musik.

Alhasil, rampunglah lagu "F__K Tha Police" pada tahun 1988. Track tersebut langsung dikepung kontroversi, dikenakan larangan siar, dan dilarang untuk dibawakan di panggung.

Berisikan sumpah serapah dan tantangan terhadap pihak kepolisian, lagu yang dibungkus amarah itu kian menjadi anthem melegenda. Hingga sekarang, lagu tersebut masih dianggap relevan oleh para remaja kulit hitam di Amerika. “F__K the Police” berhasil mengamankan gelar N.W.A sebagai "The World’s Most Dangerous Group".

2. The Kinks - “Lola” (1971)

Pelarangan dan pembatasan bukan hanya berasal dari pemerintah, aparat keamanan atau lembaga lain. Inilah pelajaran yang diterima The Kinks saat merilis "Lola" di tahun 1971.

Kala itu, lagu yang berceritakan tentang kecanggungan gender sang vokalis (bacalah sendiri liriknya, plot twist-nya terdapat di ujung lagu), justru ditekan oleh media massa.

Radio BBC, sebagai radio tersohor yang mampu mengangkat band dan musisi manapun melalui siaran musik mereka, enggan untuk memutar lagu "Lola". Penyebabnya? Product placement.

Ya, larangan untuk sekedar menyebut atau menyinggung brand lain dianggap serius. Terdapat penggalan kata “Coca-Cola” yang terselip dalam barisan lirik "Lola". Hal ini yang menyebabkan jatuhnya larangan penyiaran lagu tersebut di Radio BBC.

Pihak BBC meminta adanya pergantian lirik agar lagu tersebut bisa disiarkan. Naasnya, The Kinks sedang menjalankan tur AS nya kala itu. Alhasil, sang vokalis, Ray Davies, harus terbang kembali ke Inggris usai pentasnya di Minnesota, merekam ulang vokal, dan kembali melaksanakan tur.

Namun, langkah ini tidak berjalan dengan baik karena hasilnya yang kurang memuaskan. Barulah saat tur AS selesai mereka merekam ulang liriknya dan ahkirnya dapat tayang di Radio BBC. "Lola" menjadi hits dan melambungkan nama The Kinks yang pada saat itu sedang menurun.

3. Neil Young - “This Note’s For You” (1988)

Siapa yang tidak kenal Neil Young? Legenda rock n’ roll ini berulang menghasilkan hits seperti "Harvest Moon" dan "Rockin' in the Free World". Namun, hal tersebut jugalah yang menyebabkan pembatasan musiknya untuk lepas landas.

Tahun 1988, Neil merilis lagu "This Note's For You", lagu ini tidak hanya menyebabkan dia dibatasi dan dilarang, bahkan harus rela menerima tuntutan hukum. Gilanya, tuntutan itu dilayangkan oleh labelnya sendiri.

Dianggap tidak mewakili label tersebut, Neil dituntut karena liriknya menyindir brand-brand yang kerap mensponsori musisi. Tidak hanya menyajikan lirik menyindir, klip musik-nya juga tidak kalah pedas.

Dalam beberapa potongan gambar, dapat dilihat sosok-sosok yang menyerupai Michael Jackson dan Whitney Houston. Neil menyinggung musisi-musisi terus menerima sponsor dari brand-brand tersebut.

Pembatasan dan larangan hadir dari pihak MTV, melarang penayangan klip tersebut. Langkah ini kemudian menyulut Neil untuk menulis surat kepada pihak MTV.

Mengutip sedikit penggalan dari surat tersebut: "Hey, MTV, apalah arti dari huruf "M" pada nama mu itu? Money?", imbuhnya menyindir. Lepas dari larangan tayang tersebut, trek ini tetap menjadi sebuah hits. Pada ahkirnya, MTV pun larut dan memberikan hak tayang.

4. The Beatles - “Lucy In The Sky With Diamonds”/”A Day In The Life” (1967)

The Beatles adalah nama yang lekat dengan kontroversi. Mereka kerap dikenai pembatasan dan pelarangan, contohnya saat Lennon menyatakan bahwa musiknya lebih bermakna bagi para remaja ketimbang agama. Pun juga soal sampul album yang mengakibatkan penarikan ulang akibat meyinggung pemerintahan Amerika Serikat (album Yesterday & Today edisi khusus AS)

Namun, setelah dirilisnya Sgt Pepper's Lonely Heart Club Band barulah nama mereka masuk kedalam daftar lagu yang tidak boleh diputar milik BBC. Kedua lagu "Lucy in the Sky with Diamonds", dan "A Day in the Life", dianggap sebagai lagu yang menyampaikan subliminal message soal penggunaan narkoba. Pihak band kemudian menyatakan bahwa lagu ini tidak sama sekali berisikan pesan seperti itu.

Namun, apalah yang bisa menghentikan gelombang karya milik The Beatles di era itu? Tidak diputarnya lagu-lagu ini tidak menjadi kendala bagi pengedaraan dan perluasan album tersebut. Terbukti, hingga sekarang, album ini masih menjadi salah satu album The Beatles yang paling dikenang.

5. Sex Pistols - “God Save The Queen” (1977)

Garda depan punk ini juga tidak luput dari hal-hal serupa, karena single-nya yang mendunia, "God Save The Queen". Jelas saja, liriknya yang dipenuhi sindiran dalam bayang anti-kemapanan itu sangatlah berani. Mereka menyindir habis pihak pemerintahan yang kerap bikin geger populasi masyarakat pegiat kultur punk ataupun mereka yang dimarjinalkan, juga kaum pekerja dan buruh.

Sex Pistols bersuara dengan gaya mereka yang acak-acakan, sembrono sekaligus lantang. Mungkin sekarang, kita dapat dengan mudah mendengar track berdurasi tiga menit 20 detik ini, tapi pada tahun 1977, tidak semudah itu.

Awalnya adalah Yobel (penghargaan 50 tahun) perunggu bagi Ratu Elizabeth II sudah di ujung mata. Pistols dan manajer Malcolm McLaren menyadari kesempatan emas untuk merilis single kedua Nevermind the Bollocks, Here’s Sex Pistols. Momen itu dianggap pantas sebagai dobrakan yang bisa mendorong "God Save The Queen".

Lantas, pada 10 Maret, mereka menandatangani kontrak dengan A&M Records persis didepan Buckingham Palace (kediaman resmi ratu Inggris), dan 25 ribu kopi dari single tersebut pun dirilis. Namun, kelanjutannya ternyata berbalik. Atas tekanan dari pemerintah, label tersebut melepas kontrak dengan Pistols dan cetakan single terebut dihancurkan—hanya empat hari selepas kontrak diresmikan.

Enggan menerima kekalahan, Sex Pistols secara mendadak dan tanpa peringatan meresmikan kontrak dengan Virgin Records pada tanggal 18 Mei, bertepatan dengan Yobel perunggu sang ratu. Mereka menghiraukan seluruh larangan dan himbauan dari BBC saat single itu laris diborong. Terhitung 200 ribu keping terjual pada minggu pertamanya.

Kejanggalan mulai tercium oleh para pelaku musik kala itu, single yang seharusnya, (dan hampir bisa dipastikan) menggapai posisi wahid di berbagai tangga lagu, tidak mendapat posisi megah tersebut. Diprediksi bahwa ada campur tangan pemerintah dan kecurangan industri musik yang membuat "God Save the Queen" tidak duduk di nomor satu.

Pistols tidak diam saja, pada tanggal 7 Juni ditahun yang sama, mereka meluncurkan pertunjukan di atas sebuah kapal yang berlayar menyusuri sungai Thames, melewati rumah parlemen Inggris. Benar-benar sebuah kelompok yang gila, mereka itu.

***

Nampak mereka terus memperjuangkan karya mereka, wajar saja, karya itu hasil proses yang bukan main dikerjakan oleh para musisi dan tim produksinya. Tentulah tidak mudah bagi mereka untuk melihat hasil karyanya itu diatur-atur. Bisa dikatakan bahwa seni—dalam sudut pandang tertentu—adalah sebuah produk dari kebebasan berpikir dan berpendapat, dan melihat pembatasan dan larangan dikalungkan pada sebuah karya melalui sudut pandang itu tak jarang memang membuat geram.

Aturan memang dibutuhkan untuk memastikan tidak ada kebebasan yang tertindas oleh kebebasan orang/kelompok lain, tapi tentu aturan tersebut tidak boleh secara asal-asalan diterapkan tanpa adanya tukar pendapat, latar yang jelas, dan relevansi, serta sejumlah aspek terkait lainnya.

Jadi, gimana pendapat lo tentang sensor, pembatasan dan larangan bermusik, atau terkait para musisi di atas yang karya-karyanya dipatok larangan?



    0 Comments

Latest News