Secuil Sejarah Label Hip-Hop Independen Pertama di Indonesia, Pasukan Record


Sedikit cerita.

Di era 90-an, muncul skena hip-hop di Surabaya dari festival kompetisi rap yang diadakan oleh radio-radio Surabaya. Tercatat ada nama Maia Estianti dan Yacko yang tergabung dalam Pumpkin Rap Crew, berlanjut ke pergerakan generasi berikutnya yang menumbuhkan gigs hip-hop di cafe underground macam Flower Café dam MB Café.

Saat hip-hop di akhir tahun 90-an mengalami pergeseran oleh dominasi label-label besar ibukota yang membawanya ke ranah pop seperti Iwa K, kompilasi Pesta Rap dan Denada, ada letupan-letupan kecil dari generasi muda di berbagai skena hip-hop kota besar di Indonesia; termasuk Surabaya yang ingin membawakan hip - hop lebih "real". 

Arek-arek ini berkembang, bersilahturahmi dengan berbagai skena, baik hip-hop yang lainnya di berbagai kota di Indonesia. Dari label record macam Harder Records, Grimloc Records (Bandung), dan hip-hop heroes setempat macam Homicide, G-Tribe (Yogyakarta) sampai media independen seperti Trolley, Ripple dan lain-lain. Bahkan, skena kampus di Institut Kesenian Jakarta dan berbagai klan hip-hop klan kota lain tak luput dari konektivitas mereka yang berlangsung hingga saat ini.

Bermodal pengalaman album mini yang dirilis sendiri di tahun 1998, Negative Brain, atas nama Rongsokhanclan yang mengklaim sebagai grup rap independen pertama di Indonesia, dan kemudian disusul kompilasi Berontak Hip-Hop Compilation distribusinya berkerjasama dengan label record ibukota Alfa Record.

Wiesa Tamin aka iprobz, rapper yang waktu itu berumur belasan tahun bercita-cita membangun label rekaman independen sebagai wadah pergerakan musik hip-hop Indonesia. Dia bersikeras mendirikan Pasukan Record di tahun 1998 dan memulai bergerak di industri musik nasional. Tahap demi tahap dari kerjasama distribusi dengan label-label menengah seperti Off the Record, R&B, Bravo Music, hingga berurusan dengan label besar sekelas Universal dan EMI Indonesia, bergerilya di ranah mafia bisnis distribusi bahkan baku hantam dan urusan hukum telah dilalui hingga bisa berdiri sebagai label rekaman mandiri.

Pasukan Record kemudian merilis sebuah kompilasi perdana di tahun 1999, bertajuk Perang Rap yang membawa nama Wisha (stage name Wiesa/iprobz ), Twinsista, Negative Brain, Saga, X-Calibour dan lainya dikenal secara nasional. Album ini juga membawa Doyz, Wisha dan X-Calibour ke program MTV Asia, yaitu MTV Madness sebagai trendsetter era itu. Entah bagaimana ceritanya, official MTV Asia di Singapura tertarik me-blow up kompilasi Perang Rap dan produk Pasukan Record, disusul eksposur media massa maupun media independen.

Secara otomatis, album dari talent-talent yang tergabung dalam Perang Rap terus diluncurkan, mereka juga menggelar rangkaian tur hingga menjadi festival hip-hop berskala international, Soulnation. Melalui sistem distribusi yang mampu menembus gerai kaset dan CD macam Aquarius dan Disc Tarra. Album mereka bersaing dengan rilisan dari musisi label major di seluruh Indonesia, berekspansi untuk mendistribusikan rilisan sampai daratan Asia dan Eropa. Pergerakan mereka menjadi momen tonggak networking pergerakan industri hip-hop independen Indonesia.

Tak hanya sampai di situ, Pasukan Record dengan pelaku skena hip-hop Surabaya seperti Boogie Band, DJ Iman, DJ Alfi, Tayko Breakers, Mh2c, Soerabadja Kedjang dan sebagainya, bergerilya dari sekolah, kampus hingga klub malam dan berhasil meng-hip-hop-kan Surabaya, Malang dan kota sekitarnya secara masif dalam rentang waktu sepuluh tahun. Gerakan ini membuat hip-hop di Jawa timur mengalami kejayaan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, permintaan kerjasama berskala nasional pun meningkat. Tidak hanya Pasukan Record yang mulai dilirik berbagai rapper nasional, bahkan berdampak ke industri musik lainya di Surabaya saat artis-artis Rn’B seperti Sania menggaet Boogie Band sebagai pengiring untuk tur Asia, sampai konser solois sekelas Keith Martin.

Seiring waktu berjalan, saat industri musik global mengalami krisis: rilisan fisik sebagai sumber income menurun drastis saat era digital mulai menggeliat di awal 2000-an, bersamaan dengan dilema problem masing-masing personil membuat Pasukan Record berhenti aktif di tahun 2007.

**

Selang satu dekade lebih, di awal 2019, Pasukan Record kembali berdiri. 

Atas desakan dan dukungan dari kawan-kawan seperjuangan skena hip-hop Indonesia, dari Hellhouse (Yogya), Uprock (Bandung), Represent Indonesia (Jakarta dan kota-kota lain), Blackrock Guerilla (Surabaya), 16 Bar (Bali), Everydayindo (Bali) dan masih banyak lagi. Tidak hanya media publishing, music producer, kanal digital, label rekaman dan manajemen artis, bahkan aktivis element hip-hop seperti MC, DJ, breakdance dan grafiti yang berkembang semakin luas, menjangkau lifestyle dan fashion, sneakers telah menjadi sebuah koalisi nasional dengan circle fondasi lokalitas yang kuat.

Mereka memiliki visi yang sama soal independensi dan sepakat untuk membangun industri hip-hop lokal di kota masing-masing bersamaan dan melawan budaya populer mainstream. Event kolektif lintas kota pun telah digelar bersama, baik bedah buku, talk show hingga release party. Dalam waktu dekat, langkah demi langkah mereka akan membangun sesuatu yang besar atas nama hip-hop Indonesia.

Pasukan Record telah mengurasi banyak talenta dan telah merilis beberapa single untuk mengenalkan kembali roster-nya baik itu grup atau soloist seperti Flava Effect, Click, Eja, Destino, Ras31, Rokatenda, dan akan menyusul rilisan masterpiece Pasukan Record akan melahirkan kembali Saga sebagai legenda hip-hop Surabaya di tahun 2019.

Pasukan Record membawa misi untuk mengembalikan hip-hop di ranah culture musisi saat era media digital menyamarkan dengan berbagai alasan materi dari trend YouTuber, cover version hingga hal-hal yang menjauhkan rapper sebagai seniman dan musisi berkarakter. Sebagai sebuah bisnis idealis, label ini masih tetap memegang teguh standar kualitas dan attitude sebagai ciri khas, produk-produknya akan menjadikan hip-hop Indonesia lebih "real".

Dan, ada sebuah harapan bersama: sudah saatnya hip-hop Surabaya kembali meramaikan kancah musik Indonesia dan waktunya untuk berada di panggung yang sama dengan musik besar lainnya.



    1 Comments
  • dephythreehandoko
    • dephythreehandoko
    • 1 months ago
    bunda maya estiati ternyata punggawa hip-hop surabaya

Latest News

1  Cerita-Cerita di Balik Ilustrasi Unik Merchandise Band Indonesia
Cerita-Cerita di Balik Ilustrasi Unik Merchandise Band Indonesia

Bagi fans musik, mengoleksi rilisan fisik, menonton konser dan memakai t-shirt band atau artis...