Saat Venue Musik Gugur Perlahan

  • By: Yulio Onta
  • Selasa, 16 April 2019
  • 3479 Views
  • 3 Likes
  • 15 Shares

“Sulit bung jalanin bar macam gini. Maintenance alat-alat mahal, sewa tempat mahal, yang datang juga enggak terlalu ramai.”

Salah satu mantan staff Borneo Beerhouse menjawab pertanyaan dengan santai. Rock bar yang dulu kokoh berdiri di sisi paling pojok kompleks ruko Belle Point ini sudah berhenti beroperasi per tahun 2019. Kaca besar di halaman depan lantai 1 kini ditempeli stiker kuning bertuliskan "Disewakan," semuanya huruf kapital, lengkap dengan nomor narahubung.

Bagi kancah musik Jakarta, Borneo Beerhouse tentu punya romantisme tersendiri. Di sini Kelompok Penerbang Roket tumbuh liar, dari yang hanya disaksikan oleh belasan penonton hingga sekarang menjadi mesin rock n roll paling sompral di Indonesia.

Cerita seru lainnya: Borneo Beerhouse menjadi rumah untuk gig veteran Friday Im In Hell, bangkitnya The Flowers dalam “Bu Dokter Bangkit Lagi”, hingga Malam Hello Kitty bersama Seringai dan Deadsquad, serta sederet nostalgia lainnya. Borneo Beerhouse sendiri pernah berpindah tempat sampai tiga kali, dari Cipete ke Jeruk Purut, sampai akhirnya karam di Kemang.

Sumber foto

Kemudian menyusul kafe penyelenggara pesta degup di lantai paling atas Rossi Musik Jakarta, Mondo by The Rooftop, yang sering menjadi tempat karaoke massal, juga para selektor independen memutar koleksi ajaib mereka.

Hingga yang terbaru ada Spasial, gudang tua milik tentara yang kemudian disulap menjadi basis berkesenian kota Bandung. Untuk urusan menggelar sesi diskusi, market place sampai punk rock show, Spasial selalu terbuka.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

2015-2019 #spasial4years

A post shared by Spasial (@spasial) on

****

Perkara venue musik, khususnya klub atau bar, tutup memang bukan hal baru, siklusnya selalu begini. Tapi, sampai kapan ? Itu narasi utama yang seringkali hanya jadi pembicaraan tongkrongan sambil menenggak anggur murah di depan venue-venue (yang akhirnya tutup tadi itu) sambil menunggu band jagoan utama berlaga di dalam.

“Kalau urusan sewa tempat mahal, kadang suka kita akali sih bagaimana caranya, nego-nego sedikit masih boleh lah. Yang jelas kita butuh untuk bayar keamanan dan maintenance alat,” tambahnya lagi.

Kadang, pengunjung yang datang lupa bahwa tempat-tempat tersebut adalah arena bermain mereka sendiri yang sudah semestinya dijaga. Banyak fungsi di dalamnya, lebih dari sekadar pelampiasan adrenalin.

Kalau datang dan membeli tiket masuk yang merupakan bentuk dukungan paling mendasar saja sudah lalai, pemilik tempat tentu sulit berharap kalau larangan membawa makanan dan minuman dari luar bisa dituruti.

Saat alkohol murah dari depot sebelah sudah digilir sama rata, tiba waktunya untuk crowdsurfing seperti tiada hari esok. Kaki menerjang lampu atau tubuh ambruk jatuh ke amplifier, perkara belakangan, yang penting senang!

Tenang, ini bukan tentang melarang mereka untuk teler lalu meracau di dalam. Silahkan habiskan sampai oleng lalu masuk, namun akan lebih baik kalau ditambah dengan satu atau dua atau bahkan bergelas-gelas bir lagi di dalam kan? bukannya makin hancur makin seru? Ya hitung saja sebagai biaya bersenang-senang sekaligus menyumbang untuk keuntungan venue.

Selain persoalan mendasar tadi, ada beberapa faktor lain yang sepertinya bisa memperkuat wacana. Suka tidak suka, harus diakui, bahwa kini, khususnya di kota-kota besar, budaya berkomunitas sudah tidak lagi seksi didengar, apalagi dijalankan.

Kilas balik satu sampai dua dekade belakangan, komunitas memiliki peranan cukup krusial. Mungkin masih ingat bagaimana band-band raksasa saat ini dulunya adalah jebolan komunitas yang rajin bekerja keras dan berada dalam ekosistem musik yang sehat ?

Lekatnya imej Burgerkill dan scene GOR Saparua, pergolakan gila-gilaan yang terjadi di Institut Kesenian Jakarta yang melahirkan The Upstairs sampai The Adams, atau geliat BB’s Café yang sering menjadi rumah bagi band-band luar kota tampil di Jakarta.

Semua berhubungan. Saat itu, komunitas ternyata memainkan banyak peran. Sebagai “guest house” bagi teman-teman luar kota yang hendak datang ke kota masing-masing, perputaran roda ekonomi mikro yang bergulir begitu kencangnya lewat sistem distribusi tangan ke tangan, dan yang paling penting, mereka berani menggelar pesta bersama-sama. Menyoal untung-rugi, ramai atau tidak pengunjung, menjadi urusan kesekian, yang penting semua senang.

Semangat kencang bergerilya tersebutlah yang malah melahirkan banyak momen-momen baru. Antar pelaku kian solid, suasana di dalam yang selalu seru karena banyak mengandung cerita bodoh yang sudah sepatutnya ditertawakan bersama, dan ya itu tadi, keberanian untuk bergerak mandiri bagaimana pun caranya, menjalin kerjasama dan membangun relasi dengan venue musik dapat diakali sedemikian rupa supaya semua pihak tidak merasa rugi. Cukong-cukong tongkrongan juga masih tidak keberatan saat dimintai nominal lebih untuk tombokan, haha!

Dari sana, mental bengal terbentuk. Terbiasa mandiri dan bersama-sama membuahkan hasil yang tahan banting. Tidak ada perlombaan untuk menjadi siapa yang paling besar dan tersohor, sebatas bonus saja, yang terjadi justru saling dukung dalam memainkan musik favorit masing-masing dan menjaga tempat bermain itu dengan sedemikian hati-hati agar tidak cepat hilang. Segala keterbatasan mampu dicari jalan tengahnya.

Perkembangan yang hari ini terjadi memang pesat. Tapi sayangnya, para pelaku tidak memiliki mental guyub lagi. Memang, masih ada beberapa nama-nama kecil penggagas pentas independen dengan rajin yang wajib diberi jempol, tapi jumlahnya sedikit sekali. Kini, semua berlomba untuk menduduki kursi paling atas band terbaik. Objektifnya, main saja sesering mungkin di panggung glamor dan pulang mengantongi lembaran yang lebih dari cukup.

Tak ada sponsor, ya sudah tidak jalan. Untuk apa lagi bergerumul di klub kecil tak berbayar selama bertahun-tahun, kalau bisa viral dan populer dalam hitungan minggu ?

“Ini (bar/klub) adalah batu loncatan. Tanpa ini, kalian tidak bisa kemudian bermain di Royal Albert Hall atau arena besar seperti O2. Anda memerlukannya di sini,” ujar Tim Hopkins, pemilik klub The Cellar di Oxford, Inggris, menerangkan kepada BBC di tahun 2017 saat gathering Music Venue Trust, organisasi non profit di Inggris yang bertujuan menjaga venue-venue kecil dari kemusnahan.

Hilangnya semangat berkomunitas ini setuju tidak setuju berdampak kepada keberlangsungan venue musik. Para penyelenggara mandiri yang mau berdarah-darah berkerjasama dengan pemilik tempat untuk menyambut band dari luar kota, atau bahkan sekedar untuk memberi panggung para emerging artist, jumlahnya terus berkurang setiap tahunnya, makin hari kian tandas.

“Tidak banyak tempat bagi seniman baru untuk mencoba materi mereka dan menciptakan basis penggemar,” tambah Tim.

Siapa peduli dengan keberlangsungan ekosistem yang sehat ? Venue-venue musik kecil gulung tikar bukan masalah lagi bagi kebanyakan band era sekarang. Karena solusinya mudah dan bisa rampung dalam kurun waktu singkat; buat lagu baru, kemas tampilannya seapik mungkin, gandeng figur ternama dengan banyak pengikut, viralkan, dan… BOOM! selamat datang di deretan jadwal panggung megah keliling Jawa sampai Bali.

Mudah, cepat dan tentu saja menggiurkan. Ini semua yang kini dilombakan, rasa memiliki dari scene untuk scene sudah kabur. Apalagi menjaga kehidupan di dalam ruang-ruang sempit berbau bir campur keringat itu ? Pola pikir usang, minggir saja!

Fase nurturing dan guiding hilang perlahan. Ini bukan semata-mata mengiyakan sistem senioritas yang norak itu, tapi menyangkut keseruan yang harusnya dibangun bersama-sama dan melibatkan banyak pihak, dari organizer, pemilik venue, vendor sound system, dan lainnya. Kembali mandiri tidak hanya untuk menyenangkan semua, tapi juga menyehatkan kembali suasana.

Bila semua pihak kembali berkaitan dan tumbuh lagi rasa saling membutuhkan, tentu hitungan ekonomi dapat terus bergerak di dalam sana, minimal tidak merugi yang berujung pada kebangkrutan.

Menyoal regenerasi apalagi, klub dan bar kecil punya andil besar. Mengingat akan selalu ada match busuk di awal karier seorang pesepak bola legendaris.

“Create with the heart, build with the mind.” – Criss Jami

Foto: Achmad Soni (dok. Piston)



    0 Comments

Latest News

1  Cerita-Cerita di Balik Ilustrasi Unik Merchandise Band Indonesia
Cerita-Cerita di Balik Ilustrasi Unik Merchandise Band Indonesia

Bagi fans musik, mengoleksi rilisan fisik, menonton konser dan memakai t-shirt band atau artis...