Kisah Budaya Aural: Seni yang Berbunyi


Pada tahun 2015, saya mengeksplorasi beragam medium suara karena keterbatasan mengulik instrumen musik. Saat itu pula, saya yang baru saja lulus SMA selama beberapa bulan menggarap sebuah pameran bersama kolektif seni rupa yang saya jumpai di sebuah bimbingan belajar menggambar bernama Villa Merah dan memutuskan untuk membuat sebuah pameran seni rupa bertajuk Kongsi Callow: A Collective Contemporary Art Exhibition. Saya bertemu dengan Bob Edrian Triadi, personil Kaitzr dan kurator seni. Usai pameran, Kongsi Callow ditawari pameran di Galeri Gerilya.

Sepaket dengan mixtape, saya mencoba untuk menghadirkan ilustrasi lewat sebuah jurnal suara yang mencakup kumpulan referensi bunyi—suara, percakapan, atau musik. Sejak saat itu saya mulai mengutarakan eksplorasi medium suara yang saya lakukan kepada Bob. Saya pun mulai didekatkan dengan istilah yang disebut seni bunyi atau sound art.

Di awal 2016, Bob mengajak saya berkontribusi dalam sebuah pameran yang merupakan program dua tahunan Selasar Sunaryo Art Space bernama Bandung New Emergence Volume 6. Dalam rangkaian pameran ini, saya banyak menemukan rumusan-rumusan baru menyangkut kepekaan dalam mengolah dan memanipulasi suara. Selain itu, rangkaian-rangkaian program menuju BNE v. 6 ini menimbulkan pemahaman lebih lanjut menyangkut fenomena seni bunyi yang telah terjadi dan terus dikaji.

Kisah Seni yang Berbunyi

Istilah sound art atau seni bunyi telah dicanangkan sekitar 20 tahun yang lalu oleh Alan Licht, seorang komposer asal Amerika Serikat, yang menerbitkan sebuah buku kajian seni bunyi berjudul Sound Art: Beyond Music, Between Categories di tahun 2007. Istilah ini banyak digunakan setelah beberapa pameran seni bunyi, salah satunya di tahun 2000 yaitu Sonic Boom: The Art of Sound, dikurasi oleh David Toop di Hayward Gallery (London, Inggris) yang memuat lebih dari 30 praktisi seni bunyi dari Brian Eno sampai dengan Lee Ranaldo dari Sonic Youth.

Penulis seni bunyi berusaha mendefinisikan medium artistik ini melalui aktivitas-aktivitas gerakan Futuris Italia, Dada, hingga Fluxus. Keseluruhan gerakan tersebut, seringkali, digunakan sebagai rujukan sejarah eksplorasi elemen bunyi dalam seni.

Seni bunyi adalah bentuk apresiasi elemen bunyi yang bersifat hibrid dan interdisipliner. Kategorisasi dan presentasi karya seni bunyi mencakup pencampuran berbagai medium, contohnya instalasi bunyi dan penampilan bunyi. Di samping kerumitan tersebut, medium ini perlahan menjadi fenomena global. Di tahun 2007 Aminudin TH. Siregar dan Koan Jeff Baysa dari New York, Amerika Serikat, menggelar sebuah pameran seni bunyi yang bertajuk Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project di Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung dan melibatkan 24 seniman dari berbagai negara.

Bob Edrian kemudian menyambung kembali pergerakan seni bunyi di kota Bandung pada pertengahan tahun 2015 dengan projectnya yang disebut Salon.

"Penelusuran perkembangan seni bunyi masih sangat sulit dilakukan mengingat para pelaku eksperimentasi bunyi, terutama di kota Bandung, bisa jadi tidak menyadari fenomena berkembangnya medium eksplorasi bunyi ini,” ujar Bob dalam esai Seni Rupa = Seni Bunyi = Sound Art? (2016).

Kepekaan Bunyi dan Budaya Aural

Salon adalah pengantar pada penikmat pameran Bandung New Emergence Volume 6, Bob membawa pemahamannya atas pemikiran Florian Hollerweger dalam disertasinya, The Revolution is Hear! Sound Art, the Everyday and Aural Awareness (2011) sebagai landasan konseptual sebagai wacana budaya aural yang dipinggirkan masyarakat Barat.

Budaya aural adalah pola kebiasaan atau perilaku manusia yang mengutamakan persepsi auditori indera pendengaran. “Seeing is believing” mendominasi pemahaman mengenai budaya visual dibandingkan dengan budaya aural. Hollerweger tidak mengunggulkan salah satunya, melainkan berusaha memaparkan dan memahami keduanya untuk mengolah budaya aural dalam keseharian.

Bob kemudian mengklasifikasi praktik eksplorasi yang dilakukan seniman BNE v. 6 melalui pemaparan Brandon LaBelle dalam Acoustic Territories: Sound Culture and Everyday Life (2010).

“Hal-hal yang kita dengar, seringkali, bukanlah sesuatu yang dapat terlihat dan juga tidak dapat dijabarkan dengan ketat pada sumber yang memberikan atau dibawa ke dalam suatu bahasa. Acapkali bunyi memusatkan fokus visual—kita mendengarkan sesuatu dan bunyi tersebut memberitahukan kemana kita harus meliat; memudahkan sekitar kita dalam sebuah aliran energi untuk memberi respon di bawah alam bawah sadar. Bunyi diasosiakan dengan sumber aslinya meskipun ia (membunyikan) miliknya sendiri, terpisah (dari sumbernya), maupun ia berpadu dengan bunyi lainnya secara terus menerus sehingga (bunyi) tidak berhenti keluar dan masuk dari kefokusan dan kejelasan.” — Brandon LaBelle (2010)

Bunyi bersifat temporal dan sangat plastis terhadap bunyi lainnya. Sifat ini mungkin merupakan penyebab kurangnya kesadaran aural kita, sedangkan objek visual dibuat karena perkawinan antar bentuk, warna, dan komposisinya bersifat konkret. Kajian budaya aural menggarisbawahi fokus manusia terhadap pendengarannya, aktivitas mendengar (hearing) dan menyimak (listening) menjadi pemantik kajian yang berkaitan dengan bunyi.

BNE v. 6 mengusung tema besar bertajuk LISTEN!. Kemampuan menyimak secara aural adalah titik tolak apresiasi karya-karya BNE v. 6. LISTEN! berupaya mengungkap fenomena karya berelemen bunyi dalam perkembangan seni yang bukan seni musik di Indonesia, khususnya kota Bandung.

Salon selalu menghadirkan tema spesifik yang disesuaikan dengan gagasan penampil atau karakter tempat gelarannya. Hal ini bertujuan untuk memperkaya wacana bunyi dan musik yang menekankan pada pengalaman serta persepsi ataupun apresiasi hadirin. Bob menawarkan konversi gagasan LaBelle (berkait dengan pembagian area kota) menjadi sebuah gagasan kuratorial yang berkait dengan tahapan psikisi saat manusia dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah ia kenali. ‘Sesuatu yang belum dikenali’ dalam hal ini adalah medium seni bunyi yang kajiannya belum banyak dilakukan di Indonesia. Sementara gagasan tahapan psikis manusia juga menjadi tawaran atau tantangan bagi hadirin saat menghadapi medium ‘baru,’ atau yang masih dianggap ‘asing’.

Karakteristik Bunyi

Salon Volume 3: An Acousmatic Experience menyajikan pengenalan terhadap Bunyi Subversif bersama Ensamble Tikoro yang berkolaborasi dengan Joseph Lamont (Australia) dan aktor teater tubuh Payung Hitam, Sugiyanti Ariyani. Ensamble Tikoro adalah proyek alumni Jurusan Karawitan dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang membawakan komposisi partitur musik throat singing.

Pada Salon Volume 3, hadirin dikurung dalam sebuah ruang yang ditutup kain hitam saat Ensamble Tikoro menampilkan pertunjukan suara di luarnya. Gelaran ini menawarkan pengalaman aktivitas acousmatic listening pada hadirin. Istilah ini kemudian diaplikasikan dalam dunia musik oleh komposer Pierre Schaeffer di awal 1940-an, (dia seringkali disebut pionir salah satu metode komposisi musikelectroacoustic, musique concrete). Dalam kajian LaBelle, pola menyimak bersifat acousmatic merupakan salah satu karakteristik persepsi bunyi di wilayah yang ia sebut underground.

Tahapan pertama psikis saat berhadapan dengan sesuatu yang dianggap ‘baru’ atau ‘asing’ terhubung dengan rasa penasaran, takut, terganggu, dan hati-hati. Kategori karya seniman BNE v. 6 kemudian berjangkar pada dua kata yang dirumuskan melalui kedua poin (definisi) di atas: ancaman dan gangguan. Seniman yang diklasifikasikan dalam kategori Bunyi Subversif dalam BNE v. 6 adalah Benny Apriariska, Ramaputratantra (Gaung) dan Riar Rizaldi.

Selanjutnya, Salon Volume 4: Encountering The Everyday menghadirkan kepekaan terhadap Bunyi Keseharian melalui penampilan Bottlesmoker dan Konstipasi. Berbeda dengan bunyi subversif yang memancing persepsi sensorik manusia lewat tekanan atau tegangan, bunyi keseharian seringkali “dilewatkan” begitu saja karena dianggap “biasa”.

Aktivitas keseharian adalah inti manusia, dan seharusnya dianggap penting, tapi seringkali justru terabaikan karena telah direngkuh dalam rutinitas. Mungkin kita tidak sadar bahwa saat menjalani aktivitas keseharian, kita mengalami atau mendengar banyak sekali bebunyian. Contohnya bunyi televisi sebelum beranjak dari rumah, bunyi kendaraan untuk bepergian sehari-hari, tapi bebunyian tersebut dianggap “numpang lewat.” Keseharian manusia, perlahan membentuk karakteristik dan kepribadian manusia. Keseharian merupakan inti pembentukan manusia.

Kategori bunyi keseharian memuat sebagian besar seniman BNE v. 6 yaitu sembilan seniman. Saya, Bandu Darmawan, Bottlesmoker, Etza Meisyara (ETZA), Hajar Asyura, Mira Rizki Kurnia (Konstipasi), Mohamad Haikal Azizi (Sigmun dan Bin Idris), Opikobra (Marabunta), dan Tomy Herseta masuk dalam kategori ini. Gagasan yang muncul dari kategori ini mencakup isu-isu seperti pengaruh linguistik dalam persepsi manusia, teknologi virtual, hingga isu lingkungan keluarga dan sosial.

Berikutnya, di Salon Volume 5: Lost In Transmission menampilkan sifat Bunyi Esensial yang dihadirkan oleh Riar Rizaldi. Penampilan ini berbentuk sebuah ruangan yang diisi banyak sekali kursi tertumpuk. Salon Volume 5 bersifat partisipatori karena hadirin dapat membuat bebunyian dengan merespon tumpukan kursi di dalamnya.

Di era informasi, atau secara khusus era digital, esensi material atau kehidupan seolah terbungkus oleh ekstensi/perpanjangan (teknologi) buatan manusia. Bahkan bunyi, fenomena atau elemen esensial tanpa wujud (intangible), pun tidak dapat lolos dari aktivitas penciptaan ekstensi. Kategori bunyi esensial erat kaitannya dengan kecenderungan manusia untuk mengelaborasi atau mengembangkan hal-hal yang menjadi ketertarikannya. Di katalog Salon Volume 5, Bob memaparkan pemahamannya dalam sebuah analogi,

“Penemuan telepon, gramofon, hingga teknologi perekaman dan kompresi digital data audio termasuk ke dalam ekstensi-ekstensi bunyi dari masa lalu hingga saat ini. Yang terjadi adalah kaburnya pemahaman bunyi dalam konteks kemajuan teknologi hingga karya-karya seni digital. Bayangkan sebuah fenomena bunyi sebagai getaran pada permainan instrumen piano, kemudian permainan piano tersebut direkam diubah menjadi sebuah data audio. Data audio tersebut kemudian diolah dengan menggunakan algoritma tertentu sehingga menghasilkan sebuah pola yang terus menerus berubah. Ketika ditampilkan sebagai sebuah karya, data audio tadi diiringi dengan instalasi laser yang bergerak dinamis dalam sebuah ruangan gelap. Kurang lebih begitulah deskripsi karya instalasi bunyi Robert Henke berjudul Fragile Territories (2013). Lantas siapa yang dapat menebak bahwa pemicu awal karya tersebut merupakan sebuah fenomena getaran yang menghasilkan bunyi pada instrumen piano?

Seperti halnya sebuah kisah yang cenderung eksistensialis dalam film populer yang disutradarai oleh Sofia Coppola, Lost in Translation (2003), fenomena bunyi dalam karya Robert Henke seolah diperankan oleh Scarlett Johansson sebagai Charlotte, seorang wanita muda yang baru saja menikah, yang kemudian tersesat dalam sebuah instalasi ruangan yang kompleks bernama kebudayaan Jepang. Kompleksitas sebuah karya di era digital bisa jadi menghilangkan kesadaran audiens akan esensi karya tersebut, terlebih bagi audiens yang tidak menyimak secara seksama kedalaman sebuah karya. Marshall McLuhan, dalam The Medium is the Message: An Inventory of Effects (1967) mengungkapkan bahwa dunia telinga, dalam hal ini fenomena bunyi, merupakan sebuah dunia yang mencerminkan sebuah hubungan yang simultan.”

Kategori bunyi esensial BNE v. 6 menawarkan kompleksitas karya—dari segi gagasan dan eksekusi, yang mencakup material dan ruang presentasi karya—tentu tetap berjangkar pada elemen bunyi. Elemen bunyi sebagai unsur esensial dalam bangunan gagasan, material dan ruang yang kompleks, (bisa jadi) mengaburkan persepsi hadirin. Abbyzar Raffi dan Abshar Platisza mewakili kategori bunyi esensial dalam BNE v. 6, keduanya memaparkan gagasan seni bunyi yang beririsan dengan riset ilmiah dan kaitannya dengan makhluk hidup.

Budaya Aural untuk Melahirkan Produk Bebunyian

 “Sound art bukanlah musik, tetapi ‘seni’ tentang sound itu sendiri sebagai medium yang pada gilirannya menempatkan sound sebagai subjek utama. Unsur ‘bunyi’ pada sound art bisa diperoleh melalui spoken word juga alat-alat elektronik atau segala sesuatu yang akan mengalihkan persepsi pendengaran kita.” Begitulah tulisan Aminudinin dalam tulisan kuratorial katalog pameran Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project (2007).

Banyak musisi yang menerapkan kepekaan budaya aural dalam memproduksi karya. Sebut saja Zoo, band noise-math-rock Yogyakarta yang sukses menghadirkan sebuah realitas baru di album mereka melalui pendekatan antropologis. Pembangunan bahasa mereka sendiri di tiap albumnya sampai dengan bentuk suara yang diproduksi mengadopsi langgam budaya pengajian sebagai salah satu eksplorasi mereka adalah daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya.

Potro Joyo pun mengambil langgam wayang jawa untuk disuguhkan dalam penampilan langsung. Begitu pula kancah harsh noise di dokumenter Bising: Noise & Experimental Music in Indonesia (2014) menunjukkan bahwa musik yang mengadaptasi sifat bunyi subversif memiliki pemaknaan sendiri, dari mulai praktisi hingga penikmatnya.

Bottlesmoker pun begitu dekat dengan suara yang bisa kita dengar sehari-hari, seperti lonceng hingga game. DJ Koze, seorang DJ/produser asal Jerman, dengan lagunya yang bertajuk “I Want To Sleep” yang melakukan sampling siaran radio berbahasa Sunda. Ini merupakan suatu bentuk kepekaan terhadap suara keseharian.

Ada juga Sins of Suns yang membawa instrumen elektronik setiap mereka tampil dan dapat memberikan ilustrasi indah, dreamy di setiap lagu yang mereka bawakan.

Benar yang dikatakan Aminudin bahwa seni bunyi bukanlah musik. Seni bunyi adalah ilmu yang membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya, baik praktisi, audiens, pengkaji, dan bahkan pembacanya sekalipun untuk memiliki kepekaan dalam menyadari eksistensi budaya aural yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pengolahan budaya aural mungkin pernah diterapkan sebelumnya oleh beberapa praktisi saat memproduksi karya atau musiknya masing-masing. Pemahaman budaya aural ini, semoga para praktisi—baik seniman maupun musisi—semoga dapat membawa fenomena seni bunyi yang terjadi ke dalam konsepsi karyanya agar pendengar menjadi kaya dengan gagasan referensi yang berusaha disebarkan lewat praktik penggiat bebunyian.

Daftar Pustaka

Triadi, Bob Edrian. 2016. Seni Rupa = Seni Bunyi = Sound Art?. Bandung: MANIFEST: BANDUNG.

Triadi, Bob Edrian. 2016. Salon sebagai Bagian dari Perhelatan Bandung New Emergence v. 6. Bandung: Bandung New Emergence Volume 6: Listen! Wordpress.

Triadi, Bob Edrian. 2016. Pengantar Kuratorial untuk Salon Vol. 3: An Acousmatic Experience. Bandung: Selasar Sunaryo Art Space.

Triadi, Bob Edrian. 2016. Pengantar Kuratorial untuk Salon Vol. 4: Encountering The Everyday. Bandung: Selasar Sunaryo Art Space.

Triadi, Bob Edrian. 2016. Pengantar Kuratorial untuk Salon Vol. 5: Lost in Transmission. Bandung: Selasar Sunaryo Art Space.

Triadi, Bob Edrian. 2016. Pengantar Kuratorial untuk Katalog Pameran Bandung New Emergence v. 6: Listen!. Bandung: Selasar Sunaryo Art Space.

Hollerweger, Florian. 2011. The Revolution is Hear! Sound Art, the Everyday and Aural Awareness. Belfast: Queen’s University Belfast.

*Sumber foto



    0 Comments

Latest News

1  Extreme Music for Extreme People!
Extreme Music for Extreme People!

Indonesia, negara yang demografi dan sosio kulturalnya beragam, begitu juga dengan musiknya. Dari...