Karina Sokowati: Mixtape Sebagai Medium Ilustrasi


Mixtape menjadi medium yang menarik ketika saya gemar menyusun lagu berdasarkan pengklasifikasian mood ketika SMA. Saya mulai gemar membuat mixtape sejak saya memutuskan untuk berhenti menulis jurnal, sekitar tahun 2015-2017. Sebuah cerita adalah penyampaian ulang tentang suatu peristiwa yang kerap dekat dengan deskripsi tentang nuansa dan perasan. Maka dari itu, sebuah cerita bersifat subliminal dan, menurut saya pada saat itu, tidak cukup disampaikan dengan menggunakan narasi saja.

Medium bunyi, seperti yang kita tahu, juga dapat mengilustrasikan narasi dari peristiwa. Selain dari instrumen dan vokal, mixtape pun dapat merealisasikan gagasan tersebut.

Kaset Bootleg untuk Pacar

Jika didasari dari sejarah kebendaan, mixtape sendiri bermula dari kompilasi lagu-lagu yang dipilih selector berdasarkan suasana yang ingin direkayasa dalam bentuk bootleg 8-tracks (kaset), sebuah teknis yang lazim dilakukan pada tahun ‘60-an. Kebetulan hobi mengoleksi dan juga koleksi-koleksi kaset yang saya tekuni merupakan warisan dari orang tua saya yang menghabiskan masa muda mereka pada akhir tahun '60-an hingga '70-an. Ayah dan ibu saya mengisi masa mudanya dengan berkecimpung dalam budaya pemancar radio rumahan yang mengharuskan mereka mengoleksi records yang digemari anak muda pada zaman itu, seperti John Mayall, Led Zeppelin, Deep Purple, dan sebagainya.

Peran pemancar radio dalam penyebaran budaya musik, khususnya classic rock, di Indonesia cukup penting karena pada awal tahun ’60-an rezim Orde Lama melarang generasi muda untuk mendengarkan musik ngak-ngik-ngok milik budaya Barat. Pada zaman itu mixtape digunakan untuk membajak kaset. Dari mulai kepentingan kompilasi untuk diputar di pirate radio atau pemancar radio tersebut, hingga untuk kebutuhan sentimentil seperti memberikan kado mixtape kepada pacar―yang tentunya kumpulan lagu dalam kaset tersebut melintasi suatu genre tertentu, karena didasari dengan kuat untuk membangunkan kembali suatu suasana.

Hidup di era digital, perkembangan skena musik elektronik kini telah menjamur. Mixtape dikaitkan sebagai kinerja DJ mix. Penikmat gigs elektronik dengan mudah dapat mengklasifikasikan DJ mix berdasarkan genre, beat-match transisi dari lagu satu ke lainnya, filter dan effect yang dipakai, sampai hitungan bpm suatu lagu. Secara konvensional, hari ini mixtape kemudian akrab disebut sebagai kumpulan lagu elektronik dan dinilai secara teknis.

Menjadi haxanized

Awalnya mixing yang saya pelajari adalah teknis mixing analog selector sebagai cassete jockey, lengkap dengan walkman dan pensil, dikarenakan warisan koleksi kaset yang saya miliki tersebut dan saya merupakan salah satu generasi millennial yang gagap teknologi digital. Akhirnya, di awal tahun 2015, saya mulai mengoleksi vinyl single release yang biasa saya dapatkan dengan murah di Bhang Records yang saat itu masih membuka tokonya di Dipati Ukur 71 (R.I.P.).

Bersama kolektif Poom Poom Soundsystem yang diprakasai Dave dari band The Paps, Oi dan Otto dari band Electric Sperm, Marabunta, dan kakak-kakak eksperimental lainnya, saya rajin turut serta menjadi selector dengan pseudonym haxanized di beberapa gigs dub dan classic disco underground dari kampus ke kampus atau hanya sekedar memanfaatkan ruang publik seperti Taman Cibeunying.

Adapun teknik mixing sebagai selector banyak mengandalkan feeling dengan cara menghafal chorus, bridge, serta reff lagu tersebut. Sangat jauh dari teknik disc jockey elektronik pada umumnya. Mixer yang dipakai pun adalah mixer analog tanpa filter dan effect, tidak seperti mixer DJM 800 Pioneer atau mixer DJM 2000 Nexus Pioneer yang kerap ditemukan di klab malam atau f&b lounge yang sering menggelar party.

Dari kolektif tersebut, saya mulai mencari medium digital agar saya dapat merekam pilihan-pilihan lagu favorit saya menggunakan aplikasi Virtual DJ, Traktor, dan Serato. Barulah di awal tahun 2016, saya memberanikan diri untuk menyewa satu studio selama dua jam di Chemical setiap minggunya untuk berlatih disc jockey dengan teknis konvensional yang tersebut di atas dan mulai mendalami lagu-lagu left-field house seperti Palm Traxx, Zanzibar Chanel, Dream 2 Science, mix tape The Loft oleh David Mancusso, dan sebagainya.

Sebuah Jurnal Suara           

Dimulai dengan ketertarikan saya terhadap seni rupa, metode yang dipakai untuk membuat sebuah mixtape merupakan teknik dasar kolase; memotong dan menempel. Tentu saja, teknik ini terkesan kasar dan menyampingkan teknik mixing yang kerap dipakai oleh seorang disc jockey (DJ) seperti memperhatikan bpm (beats per minute), beat-matching, dan pengklasifikasian genre.

Namun seperti membaca novel, mendengar juga bersifat ilustratif. Mixtape menjadi sebuah jurnal suara bagi saya pribadi. Dalam ‘menjahit’ mixtape, dibutuhkan kepekaan terhadap suara agar dapat menginterpretasikan kumpulan suara tersebut guna menghadirkan kembali suasana (ambiance) dari sebuah peristiwa yang pernah terjadi. Medium suara juga dapat menyuratkan sebuah suasana lewat dialog, yang mungkin, tidak langsung membahas inti melainkan menyiratkan inti sebuah cerita dari suatu peristiwa.

Berawal dari konsep awal mixtape yang mengusung suatu suasana dan kepekaan suara untuk medium bercerita yang illustratif, mixtape yang saya jahit biasanya dieksekusi dalam bentuk sound art (seni bunyi). Tidak hanya lagu yang terjahit di dalam mixtape yang saya buat, saya mencoba menghadirkan obrolan tongkrongan atau curhatan teman yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Dengan teknik ini, saya dapat membawa mixtape dari kampus dan ruang publik, ke lounge, dan klab malam, sampai dengan ruang pameran.

*Sumber foto



    0 Comments

Latest News

1  Secuil Sejarah Label Hip-Hop Independen Pertama di Indonesia, Pasukan Record
Secuil Sejarah Label Hip-Hop Independen Pertama di Indonesia, Pasukan Record

Sedikit cerita. Di era 90-an, muncul skena hip-hop di Surabaya dari festival kompetisi rap yang...