Japs Shadiq 'Indische Party': Menanti Film Biopik Legenda Musik Indonesia Nan Apik

  • By: Japs Shadiq
  • Senin, 11 June 2018
  • 2524 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Musik dan film, dua bidang yang sejatinya tak bisa dipisahkan. Dua bidang yang  keduanya cukup gue gemari dan sedikit banyak kuasai. Belum lama ini trailer film biopik Queen, Bohemian Rhapsody dirilis. Filmnya bakal dilepas November nanti. Gue bukan mau promosiin film itu sih, tapi nonton dari trailer-nya aja udah bisa bikin ngiler untuk mengantisipasi kehadirannya di bioskop kesayangan Anda.

Mulai dari ciamiknya penataan musik dalam me-remake lagu-lagu Queen pada trailer tersebut, sampai pemilihan aktor yang tidak sembarangan hingga mendekati sosok asli Freddy Mercury. Selain emang gue juga penggemar berat Queen, karena mereka adalah salah satu band yang mengisi soundtrack kehidupan di masa-masa awal pertumbuhan bermusik gue. Entah kenapa gue selalu tertarik ke musik zaman baheula sedari kecil, khususnya tahun 60-an hingga 70-an. The Beatles, Queen, The Rolling Stones, The Doors, Led Zeppelin dan banyak lagi.

Ngomong-ngomong soal The Doors, film biopik The Doors dari sutradara Oliver Stone yang diperankan Val Kilmer yang juga berjudul The Doors (1991), juga merupakan salah satu film biopik band yang recommended. Selain Val Kilmer bisa merepresentasikan Jim Morrison dengan nyaris sempurna, menurut gue pribadi sih semua elemen di film tersebut cukup mewakili filosofi bermusiknya The Doors yang bermain di ranah psikedelia, lengkap dengan penggambaran aneka stimulan yang dikonsumsi Jim Morrison cs pada era itu. Mungkin istilah sekarangnya “halu” lah.

Banyak banget film-film biopik band keren yang bisa gue rekomendasiin, tapi sebenarnya tulisan ini gak mau terpaku dalam membahas film-film luar, Banyak juga film biopik luar yang sejatinya jauh dari ekspektasi. Sebut saja film tentang mendiang Brian Jones berjudul Stoned (2005). Sebagai penggemar The Rolling Stones khususnya Brian Jones, semua cast dalam film ini bisa dibilang jauh banget dari sosok aslinya, belum lagi dalam penggarapan musik, film ini pun bisa di bilang terlalu polished untuk band yang memiliki ciri khas raw dalam balutan sound-nya.

Di dalam negeri, perjalanan musik populer Indonesia melahirkan banyak legenda, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita. Berbagai era dari era sebelum kemerdekaan, hingga tahun 60-an era British Invasion, bahkan musik Indonesia memiliki warna suara tersendiri pada genre Indorock, dengan beberapa band yang gaungnya terdengar bahkan hingga Eropa. The Tielman Brothers, Dara Puspita, lalu ada Koes Bersaudara yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai Koes Plus, hingga ke era hard rock 70-an, band-band seperti AKA, Panbers, serta God Bless yang masih aktif manggung hingga saat ini.

Namun demikian, hingga saat ini belum ada tontonan yang menyajikan para pahlawan musik Indonesia tersebut di layar kaca dengan film yang mumpuni. Beberapa film biopik yang sudah ada dirasa masih belum menyampaikan tokoh sang legenda dengan baik. Faktor kegantengan sang aktor selalu lebih diutamakan dibanding dengan kemiripan dengan tokoh aslinya, baik wajah maupun gestur.

Belum lagi cerita-cerita yang berkutat pada klise kisah asmara sang musisi, tidak direstui orang tua, bukan mendetail menceritakan perjalanan musikalitas dan pengaruh yang dihasilkannya pada musik Indonesia.

Menyoal pemilihan aktor yang diutamakan ganteng, Itu terjadi di berbagai film biopik di Indonesia, bukan hanya spesifik film biopik bertema musik. Mungkin faktor kebintangan lebih menjanjikan sebagai nilai komersial, mengingat penonton film Indonesia secara umum masih memperhitungkan siapa pemain filmnya dibanding konten dan segi estetika film.

Kedepannya, kita boleh terus berharap banyak kepada perkembangan film di Indonesia untuk mengapresiasi para legenda musik negeri ini dengan lebih elegan, agar anak cucu kita yang pastinya akan lebih kritis dari kita bisa mengenal musisi-musisi legendaris negeri sendiri lewat film, karena musik di Indonesia dari dulunya sudah keren dan sangat bisa dieksplorasi menjadi film-film yang keren pula.

Apabila gue boleh berkhayal, suatu hari jadi legenda terus kisah gue sama Indische Party mau dibikin film, semoga pemeran gue bukan Vino Bastian atau Reza Rahadian lagi. Karena yang pasti, pada saat itu mereka sudah uzur juga, haha. Wasallam.



    0 Comments

Latest News

1  Extreme Music for Extreme People!
Extreme Music for Extreme People!

Indonesia, negara yang demografi dan sosio kulturalnya beragam, begitu juga dengan musiknya. Dari...