Daniel Mardhany: Minimnya Literatur Musik Indonesia


Jika dibandingkan dengan negara-negara barat seperti di Eropa dan Amerika, atau mungkin gak usah terlalu jauh, negara Asia seperti Jepang misalnya, jika kita komparasikan literatur/buku semacam biografi, otobiografi, sejarah genre musik tertentu di Indonesia bisa dikatakan minim.

Ada idiom “Bangsa yang maju adalah bangsa yang gemar membaca.” Begitu juga dengan lagu Efek Rumah Kaca, "Jangan Bakar Buku" yang kalau tidak salah menceritakan tentang pemberangusan buku yang kekiri-kirian beberapa tahun silam. Yang saya ingin tulis di sini lebih spesifik ke buku tentang musik, karena saya memang gemar membaca dan mengumpulkan buku seperti ini, selain buku-buku filsafat dan sastra. Di buku-buku kadang banyak penjelasan lebih detail dibandingkan dengan video dokumenter dengan keterbatasan footage dan hal lainya.

Memang ada beberapa buku biografi musik Indonesia, tapi jumlahnya tidak sebanyak musisi manca Negara. Sebagai contoh komparasi, coba bandingkan jumlah buku Koes Plus dengan The Beatles, yang kalo kita search di dunia maya  mungkin akan keluar puluhan atau mungkin ratusan buku dengan penulis yang berbeda, dari era mereka aktif sampai setelah mereka bubar dan masa yang akan datang. Berapa banyak buku solois legendaris alm. Chrisye jika dibandingkan dengan alm. David Bowie? Buku Iwan Fals dibandingkan dengan buku Bob Dylan sang inspirator beliau? 

Mungkin saya terlalu naif karena komparasinya dengan musisi kelas internasional, tapi saya harap ada bentuk apresiasi lebih dan lebih dalam bentuk literatur untuk musisi/skena musik Indonesia, baik itu dari para penulis, penikmat musik, dan juga pelakunya.

Saya sendiri mempunyai wacana dan rencana  membuat buku bedah album-album dari band/musisi lokal Indonesia favorit saya. Tiga tahun yang lalu saya cukup niat mengerjakan hasrat lain saya di luar musik yaitu menulis. Album pertama yang saya akan bedah adalah album skena lokal no. 1 favorit saya: Centralismo milik Sore. Saya sudah mewawancarai Ade Paloh, Reza, Mondo, dan Bembi Gusti di tempat dan waktu yang berbeda. Hasil kekepoan saya akan proses penggarapan album, alat yang mereka gunakan dalam album pertama mereka yang dirilis oleh Aksara Recs tahun 2006 itu, makna dari lirik setiap lagu di album tersebut.

Namun setelah 1/3 saya tulis di PC, saya mengalami musibah tak terduga yaitu hard disk saya jebol/rusak dan semua data digital itu tidak dapat diselamatkan satu megabyte pun. Ini merupakan pelajaran buat saya, harusnya saya memanfaatkan fasilitas penyimpanan file digital kayak email/Google Drive di lain waktu, jadi kalau ada tragedi serupa, data-data itu masih selamat.

Menulis memerlukan mood dan kehilangan data yang sudah saya kerjakan selama enam bulan itu menghilangkan mood saya untuk mengerjakan semuanya dari titik nol kembali. Tapi hasrat untuk membedah album Centralismo dalam bentuk buku fisik dan mengurainya menjadi berlembar-lembar tulisan tetap masih ada. Mungkin butuh waktu dan mood yang tepat untuk memulai itu semua dari awal. Atau mungkin saya akan membedah album band saya sendiri karena akan lebih mudah pengerjaannya karena saya terlibat langsung di dalamnya dan mudah untuk meng-interview personel atau sosok di balik meja mixer memoles tata suara album itu menjadi seperti itu.

Jika saya datang ke ajang book fair tahunan, ada rasa senang dan sedih.senang karena bisa membeli atau sekadar melihat buku-buku mengenai musik/musisi, baik itu biografi maupun otobiografi. Biasanya saya membawa pulang 20-30 buku, tapi sayangnya hanya 10% buku mengenai musisi lokal yang saya dapat, seperti Benyamin dan Rhoma Irama, sisanya buku-buku musisi/band luar seperti David Bowie, Black Sabbath, The Beatles, Pink Floyd yang ditulis oleh 2-3 penulis yang berbeda dengan kedalaman pembahasan yang berbeda-beda pula.

Ada yang bagus secara estetika tapi kurang dalam pembahasannya. Ada juga yang dalam pembahasannya tapi secara estitika kurang menarik. Buku selain untuk dibaca dan dilihat, kadang menjadi bagian dari estetika suatu ruangan walaupun tidak terlalu krusial, misalnya kamar tidur, ruang tamu/ruang keluarga. Bahkan ada rumah yang memilik ruang khusus untuk membaca seperti yang saya lihat di film-film, dan ada beberapa kenalan saya yang mempunyai ruang seperti itu merangkap ruang untuk menikmati musik. 

Beberapa tahun terakhir, perkembangan soal literasi musik di Indonesia maju beberapa langkah dibanding era 90-an/awal abad 21. Banyak publisher buku yg diprakarsai oleh tokoh-tokoh skena lokal dan industri kreatif. Saya sangat segan dan salut dengan Kimung dari Minor dan Taufik Rahman dari Elevation yang terbilang produktif menerbitkan buku-buku yang berhubungan dengan musik di negeri ini. Minor bahkan menerbitkan buku Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur yang sangat amat tebal mengulas sangat detail skena musik bawah tanah Ujung Berung (Bandung), dengan dokumentasi yang sangat banyak.

Selain itu Minor juga menerbitkan buku-buku lainnya seperti Jurnal Karat mengenai Karinding Attack dan tak lupa My Self: Scumbag, Beyond Life and Death, buku biografi salah satu vokalis paling fenomenal di skena musik cadas Indonesia, mendiang Ivan Scumbag eks Burgerkill.

U&KL Books juga menerbitkan buku Based on a True Story 01 tentang Pure Saturday yang ditulis oleh Idhar Resmadi yang terbit tahun 2012 lalu. Buku berdimensi kecil itu mengulas perjalanan jatuh bangun pionir indie pop yang melegenda dengan lagu "Kosong" secara dramatis. Saya sangat menantikan edisi 02 dari buku terbitan U&KL Books.

Saya mencoba berkomunikasi dengan beberapa publisher buku lokal seperti Kimung dari Minor, Taufik Rahman dari Elevation serta Dandy Darman salah satu co-founder clothing UNKL347 yang mempunyai sub divisi U&KL Books untuk mengeluarkan produk dalam rupa literatur.

Saya memulai dengan Kimung, mantan bassis Burgerkill era dua album awal yang sudah cukup lama bergerak di bidang penerbitan. Buku Minor pertama yang saya punya ada Tiga Angka Enam cetakan awal, semacam buku novel/cerpen sureal yang gelap, ditulis oleh Addy Gembel, vokalis Forgotten. Cerita dalam buku itu berkaitan dengan lirik-lirik Forgotten secara langsung. Buku tersebut saya beli semasa berseragam putih-abu-abu, dan udah puluhan kali saya baca berulang-ulang hingga sampulnya lecek. Berikut ini perbincangan saya dengan sosok aktif yang bergerak di bidang literasi.

Sebagai pembuka, saya menanyakan kang Kimung tentang bibliografi Minor, ternyata jumlah sudah lumayan banyak dan beberapa judul saya belum baca.

Berikut daftarnya:

1. Sejarah Lokal Cianjur, 2005

2. Tiga Angka Enam, 2005

3. Salamatahari, 2005

4. Konsep dan Metode Sejarah Lisan, 2006

5. Myself, Scumbag Beyond Life And Death, 2007

6. Memoar Melawan Lupa, 2011

7. Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels, 2011

8. Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur, 2013

Setelah jeda 5-6 tahun, sekarang beliau sedang mempersiapkan beberapa buku untuk segera dilempar ke khalayak seperti Sejarah Karinding Priangan, dan juga 11 buku tema Bandung bawah tanah, terdiri dari buku metal, punk, hardcore, hip hop, rock, pop, musik elektronik, merchandising, gigs, zine & media, dan record label. Ini bekerjasama dengan Atap Class.

Untuk penjualan dan distribusi buku terbitannya, Kimung mengakui bahwa penjualan dengan online sejauh ini lebih berjalan, walaupun ada beberapa toko fisik tempat distribusi seperti di distro teman-teman skena seperti Omuniuum, Tobucil, Selasar Sunaryo, Chronic Rock, Remains, Riotic, Pieces, Common Room, serta Official Bandung Berisik.

Buku dengan penjualan terbaik adalah buku biografi alm. Ivan Scumbag sang eks vokalis Burgerkill yang merupakan kawan karibnya. Buku terbitan pertamanya sempet dititip jual di Gramedia sejumlah 250 buku dan habis dalam 3 minggu.  Sebenarnya Gramedia meminta stok lagi, tapi karena faktor pertimbangan ingin lebih membangun infrastruktur independen buat buku, jadi permintaan dari Gramedia untuk penambahan stok ditolak.

Sekadar tambahan, untuk buku biografi Scumbag, Kimung sendiri kaget karena buku itu menjadi semacam collector edition. Dia bercerita “(Buku) Scumbag kemaren nembus ke harga Rp 1,3 juta. Padahal harga aslinya Rp 69 ribu. Dari segi usia pembaca buku terbitannya adalah 13-60an, cukup variatif dan tinggal di perkotaan.”

Saat saya bertanya, mengapa banyak orang luar yang lebih tertarik menulis buku soal musik Indonesia, misalnya buku musik dangdut yang merupakan musik rakyat bagi orang Indonesia, malah ditulis oleh penulis luar. Juga buku skena death metal dan grindcore Indonesia yang ditulis oleh orang Jepang dan juga diterbitkan di sana. Ini jawaban Kimung: 

“Emang gak ada buku yang bahas tentang metal yang bisa mereka baca, karena pas dikasih buku tentang metal mereka beli dan dibaca. Artinya ada kebutuhan buku-buku yang secara spesifik bahas tentang metal Indonesia untuk dibaca para metalhead Indonesia.”

Ada fakta menarik yang dia dapat di tahun 2015 di Helsinki, dia jadi pembicara di Modern Heavy Metal Conference. Jadi tahun 2000-an, pasar musik Eropa dan Amerika mulai membidik Indonesia setelah mereka menguasai Jepang di dua dekade sebelumnya (1980-an dan 1990-an). Ketika mereka membidik pasar, hal pertama yang dilakukan adalah mapping pasar mereka. Untuk itu mereka mengirim para peneliti, jurnalis, fotografer, videografer, dan aktivis dokumentasi lain buat mengumpulkan data-data tsb.

Para pendokumentasi ini lalu mengirimkan hasil penelitian mereka ke pemerintah sebagai kajian akademik yang ilmiah dan dilegalisir oleh universitas. Kajian ini lalu diolah pemerintah buat dibikin kebijakan penetrasi ekonomi yang kemudian dieksekusi oleh kaum kongsi bisnis.

Menurut Kimung, para peneliti ini sebetulnya sangat objektif, tetapi mereka tentu berangkat dengam subjektivitas mereka sebagai orang Eropa. Jika kita punya sumber pembanding, dalam hal ini buku-buku sejarah yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri, maka objektivitas para peneliti dalam membangun kajiannya semakin terjaga. Namun, jika tak ada sumber pembanding, subjektivitas Eropa-nya akan semakin kental.

Dalam kondisi subjektivitas, kajian ini jatuhnya akan menjadi kebijakan dan ekspansi ekonomi yang berat sebelah, bahkan rentan ke kolonialisme baru di bidang music. Namun jika objektif, kajian ini akan berpotensi besar jadi program bersama yang kolaboratif. Hal-hal seperti itu yang memperkuat hasratnya untuk menuliskan buku-buku sejarah tentang dunia musik kita secara layak.

Selanjutnya saya berbincang dengan Dendy Darman, karena UNKL Books membeberkan salah satu buku mengenai Pure Saturday, band pelopor skena indie pop lokal yang berdiri sejak pertengahan tahun 90-an dan masih aktif hingga saat ini, walaupun mengalami pergantian personel yang cukup signifikan. 

Saat saya bertanya mengenai apresiasi dan penjualan buku yang dicetak sebanyak 2000 eksemplar dan telah habis, menurut Dendy itu adalah hal yang bagus. Tapi ada beberapa keterbatasan yang dia sayangkan, seperti karena itu buku low budget jadi ukurannya kecil dan kurang foto.

Dia menambahkan “Padahal kalau agak gede dan ada foto pasti lebih laku. Kan sekarang kita bisa cetak dikit, kalau dulu harus banyak.“ Menurut pria yang gemar surfing ini, sekarang sistem pre-order lebih efisien untuk merilis/menebitkan suatu buku, karena bisa dicetak sesuai dengan permintaan pasar. Saat saya menanyakan rilisan terbaru UNKL Books, ternyata mereka belum memiliki rencana menerbitkan buku apa dan siapa untuk saat ini.

Berikutnya adalah obrolan saya dengan Taufik Rahman dari Elevation. Elevation merupakan record label sekaligus publisher buku. Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini mereka lebih fokus merilis buku fisik dibanding rilisan musik fisik.

Taufik Rahman menjelaskah, “Sejak tahun 2016, Elevation Books sudah merilis lima judul, dengan tanggapan yang menggembirakan. Hampir semua sudah mengalami cetak ulang. Buku Setelah Boombox Usai Menyalak sudah cetak ulang tiga kali. Yang pasti tidak sebesar penerbit arus utama atau penerbit independen yang rajin melakukan promosi. Kita sangat low profile karena memang sumber daya terbatas.”

Karena Elevation juga merupakan label rekaman, saya menanyakan lebih susah jualan buku fisik/rilisisan fisik? Dia menjawab, “Terus terang jauh lebih mudah menjual buku. Setelah rilis album The Knife Club, saya hold dulu merilis musik fisik via Elevation Records untuk fokus di buku dulu.“

Saat saya bertanya alasan mengapa ia mulai niat dan nekat menerbitkan buku-buku bagi khalayak, inilah jawabannya:

“Budaya literasi sangat kurang di Indonesia dan semakin parah sejak era media sosial. Buku musik yang ditulis dan dikerjakan dengan baik juga jarang jadi kita mau mengisi ceruk itu. Menerbitkan buku musik adalah salah satu cara untuk menarik minat baca orang. Kalau orang sangat mencintai musik pasti dia akan mau membaca apapun tentang musik. Dan bagi khalayak umum, mereka mungkin akan tertarik untuk membaca, karena siapa sih yang tidak tertarik untuk tahu lebih banyak soal musik.“

Elevation sendiri distribusi bukunya bisa terbilang santai. Mereka berprinsip biar orang cari tahu sendiri dan bukan tahu karena publikasi gede-gedean. Ketika semua knowledge gampang dicari di internet, kita justru menyasar orang yang serius cari dengan upaya sendiri.

Untuk skena metal, setahu saya belum ada publisher lokal yang menerbitkan buku spesifik yang membedah mengenai skena extreme metal Indonesia. Yang menerbitkan malah penulis Jepang bernama Kazuo Ogasawara yang sangat into dengan skena death metal Indonesia. Buku setebal 351 halaman ini membahas skena musik ekstra cadas Indonesia dalam bahasa kanji dan didistribusikan di Jepang dengan bandrol 2300 yen.

Sebagai bagian dari skena, saya sangat salut sekaligus malu saat membaca buku yang semua beraksara kanji tersebut, karena ironisnya buku tersebut ditulis oleh orang di luar skena kita, dan sangat sulit untuk membaca huruf kanji, haha. Dampak dari buku ini bagi mungkin semakin banyak band cadas Indonesia yang tur di Negeri Sakura, dan orang-orang Jepang menjadi lebih tahu soal permukaan skena musik ekstra cadas Indonesia. Saya berharap ada publisher buku yang melisensi dan menerbitkan buku ini dalam bahasa Indonesia untuk pasaran Indonesia, sehingga orang Indonesia mudah membaca isi buku dokumentasi tersebut.

Yang saya harapkan dari tulisan kali ini adalah semoga mereka yang telah bergerak di ranah publisher buku/literasi mengenai musik di Indonesia semakin produktif, dan juga menjadi trigger/stimulan bagi mereka yang akan menulis buku mengenai musik skena lokal (termasuk diri saya sendiri yang telah mempunyai wacana ini sejak berapa tahun yang lalu).

Peta musik di Indonesia ini seluas geografis negara demokrasi ini, dan sangat beragam seperti aneka suku yang ada sejak tanah yang kita injak ini bernama Nusantara. Banyak sekali hal mengenai musik yang bisa diulas, bedah dalam ranah literasi yang bisa dibilang tidak sebanyak populasi mereka yang berkecimpung dalam dunia musik itu sendiri. Hal lainnya adalah semoga para apresiator musik juga mengapresiasi berbagai bentuk literatur mengenai musik selayaknya mereka mengapresiasi konser, merchandise, dan rilisan fisik.

Foto: Dokumentasi pribadi penulis



    0 Comments

Latest News

1  Extreme Music for Extreme People!
Extreme Music for Extreme People!

Indonesia, negara yang demografi dan sosio kulturalnya beragam, begitu juga dengan musiknya. Dari...