Arief ‘Blingsatan’: Karya Mewakili Identitas


“Double uppercut” dari Blingsatan; mencoba bertarung dengan dua lagu, Melawan Luka Sang Juara

Setelah merilis tiga album dan dua single, kami harus membuat sesuatu yang berbeda menjelang album keempat. Setelah terlintas perdebatan kami beberapa tahun lalu, tentang bagaimana menyusun list lagu dalam album agar enak untuk didengar, seperti halnya seorang disc jockey meramu list lagu dengan pertimbangan dinamika beat tiap lagu hingga kunci nada dasarnya. Begitu pula bagaimana menyusun list lagu yang menyesuaikan konten lirik lagu agar tersusun rapi seperti halnya kita menyusun bab per bab dalam karya tulis.

Akhirnya kami bersepakat merumuskan karya yang akan kami buat, yaitu bagaimana membuat sebuah karya yang kami sebut "double uppercut," yaitu dua single/track yang dirilis bersamaan dengan satu kesatuan tema dan pesan yang disampaikan dua lagu tersebut, tetapi dua lagu tersebut harus berbeda, baik dari segi aransemen, nada dasar sampai BPM-nya. Hhh, ribet juga.

Dua lagu ini dikerjakan selama satu tahun dengan berbagai macam perdebatan. Dari gonta-ganti aransemen, lirik, hingga lagu. Dan di bulan Agustus lalu, kami merilis sebuah karya "double uppercut" yang bertitel Melawan Luka Sang Juara berisi dua lagu yang berjudul "Melawan Luka" dan "Sang Juara" dengan tema tentang gentleman attitude dalam memperjuangkan sesuatu dalam hidupnya.

Kami mengambil tema ini sebagai ciri khas Blingsatan yang liriknya cenderung motivatif dan memberikan semangat dalam balutan musik enerjik, dinamis, dan emosional. Dari karya ini, kami berusaha mengemas secara minimalis dua lagu sebagai test case pembentukan karakter karya dan identitas band. 

Ketika persoalan menyusun list lagu dan pemberian titel dalam album itu menjadi penting, sebagai suatu kesatuan kemasan yang mendukung warna musik oleh seorang musisi ataupun band. Menurut saya, album keren dalam hal penyusunan list lagu dan titel album adalah Slank album Suit He...He (1990), meramu 10 lagu yang cukup padat untuk menceritakan gaya hidup bebas rocker ibu kota yang membius kaum muda di zamannya.

Judul album Dookie (1994) dari Green Day merupakan judul album yang terkesan jorok dan apa adanya, menghasilkan lima hits single yaitu "Longview", “Welcome to Paradise”, “Basket Case”, “When I Come Around”, dan “She”. Meramu 14 lagu yang menggambarkan punk dalam kehidupan sehari-hari membuat mereka sebagai sosok yang mewakili anak muda di zamannya, dan berhasil mempopulerkan punk untuk kesekian kalinya.

Album Check Your Head dari Beastie Boys merupakan album yang dirilis tahun 1992 oleh Capital Records, dengan titel yang menohok. Menyusun 20 lagu rapi dengan materi yang berat, mereka mampu membawa musik rap dengan atmosfer punk, seperti yang dikatakan jurnalis musik Arne Willander: ”Lagu ini ditulis dengan gaya ‘eklektisisme’ yang sulit, di mana kita digelisahkan oleh lirik dan digelitik dengan kolase suara slogan, obrolan dan instrumen-instrumen mengejutkan.”

Masih banyak lagi album-album bagus yang meledak di pasaran rata-rata bukan karena hits andalan saja, tetapi menjual satu kesatuan karya dalam satu album yang mampu memberikan dinamika emosional dan membentuk atmosfer dalam alam dengar kita.

Fenomena industri musik pop tahun 2000-an yang mengalami krisis perpindahan, dari bentuk karya fisik ke digital dan media mainstream yang mulai tergeser oleh media sosial internet, menjadi puncak keabsurban karakter band atau musisi dalam sebuah karya album. Ketika bentuk musik populer diseragamkan dengan taste dan karakter yang sama, tentunya dipromosikan di media mainstream dengan cara yang sama juga.

Contoh saja band pop Bagindas, Vagetoz, Kangen Band dsb, sampai generasi penerusnya yang hanya dituntut membuat hit single satu lagu dan berpenampilan menarik agar menembus pasar. Alkisah pada suatu ketika, saya pernah menerima job organizer untuk menggelar sebuah press conference perilisan single sebuah band pop yang lagunya populer.

Saat memasuki rangkaian acara presscon, dari awal pengenalan sosok personel band sampai di akhir interview, para wartawan dan audience tidak mengenal sosok artis di depannya, hingga sampai saat perform dan mendengarkan lagu-lagunya, barulah awak media dan audience mengenal sosok artis ini dari lagu-lagu hitnya. Padahal band ini secara fisik sangatlah menarik sekali. Sungguh miris fenomena ini ketika musisi atau band tidak mampu membentuk identitas melalui karya-karyanya.

Mungkin apabila hal ini diangkat sebagai hal penting yang harus diperhatikan musisi dalam berkarya, bahwa membuat album tidak hanya sekadar membuat hits, melainkan membuat suatu rangkaian beberapa lagu yang menjadi satu kesatuan karya yang  membentuk karakter dan identitas musisi atau band tersebut. Hal ini akan lebih memacu produktivitas band-band atau musisi membuat album, dan mungkin akan berdampak berkembangnya aneka ragam rilisan fisik, di mana selain mendukung bentuk fisik album juga menumbuhkan rasa kepemilikan sebuah benda karya album musik. Semoga tulisan ini menjadi semangat berkarya kita bersama.



    0 Comments

Latest News