Arief ‘Blingsatan’: Bertiga Lebih Berbahaya


Band adalah sekumpulan musisi yang memainkan alat musik dan menjadi sangat ideal apabila lengkap di semua lini. Berbagai sumber suara berperan dalam membentuk sebuah lagu, dari vokalis, bassis, gitaris, drummer, kibordis hingga berbagai alat musik lainya.

Munculnya musik ensembel kemudian orkestra, yang mana sebagai simbol kemewahan bangsawan, ataupun big band yang marak di era 30-an. Konon bermusik seperti ini mulai menurun ketika kondisi ekonomi dan politik di negara-negara maju mengalami krisis pada saat itu, yang mengakibatkan menurunnya pertunjukan skala besar di gedung-gedung pertunjukan, sehingga bermunculan grup-grup musik dengan skala kecil, seperti salah satunya kuartet swing jazz-nya Benny Goodman, disusul dengan The Tielman Brothers yang belajar bermusik di Surabaya. Mereka berhasil memainkan musik lebih hot dengan formasi minimalis.

Masih banyak grup-grup musik lainya. Sekadar cerita kilas balik tentang bagaimana bermain musik bersama-sama dari skala besar, yang kemudian bergeser menjadi skala kecil atau yang populer dengan sebutan band. Walaupun di era sekarang ini masih ada beberapa band modern dengan konsep “big band” seperti Slipknot, Arcade Fire, Broken Social Scene dsb. 

Berapa banyak sih personel yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah band? Sebuah pertanyaan yang bebas dijawab semau kita, tergantung dengan apa yang kita mau. Vokalis, bassis, drummer, kibordis, gitaris atau double guitarist atau dilengkapi dengan beberapa instrumen lain, ini semua tentang selera membentuk formasi ketika bermusik sudah di luar ranah formal.

Dari formasi band pada umumnya, yang terdiri dari 4-6 personel adalah formasi ideal di mana setiap personel mempunyai peran yang sama dengan spesialisasi kemampuannya. Kemudian ada yang menarik ketika formasi band itu hanya beranggotakan tiga orang, ada kesan minimalis, orisinal, dan rebel, hehe. 

Dari era rock 60-an, telah tercatat grup-grup eksentrik yang beranggotakan tiga orang mendobrak blantika musik dunia, seperti The Jimi Hendrix Experience sebagai pendobrak rock era 60-an, disusul Cream, band yang membesarkan nama Eric Clapton. Pada era 70-an muncul dari skena progressive rock atau art rock ada ELP dan Rush. Lalu The Police yang meledak di era 80-an, dan di era 90-an ada Nirvana dan Green Day yang memporak porandakan tren rock dunia, sampai dengan era 2000-an di mana Blink-182 meledak sebagai ikon trio rock hingga saat ini. 

Lalu bagaimana dengan eksistensi band trio di Indonesia yang banyak menginspirasi? Konon band trio itu cenderung bisa mencuri perhatian dan menjadi ikon perubahan di eranya termasuk di indonesia. 

Salah satu trio pertama di Indonesia berasal dari Surabaya, muncul di tahun 70-an, tepatnya di akhir 1975, yakni grup rock bernama SAS. Namanya diambil dari inisial nama dari personelnya: Syeh Abidin (drum), Arthur Kaunang (bass, kibor, vokal), dan Sonata Tanjung (gitar). Band evolusi dari AKA pimpinan vokalis legendaris Ucok Harahap ini awalnya kental dengan progressive rock yang terpengaruh dengan ELP dan Rush. Momentum duel hard rock yang digelar di Monas bersanding dengan Giant Step asal Bandung, membuat SAS terus melejit berkembang menjadi band hard rock yang besar di eranya.

Pertama kali saya melihat permainan band ini di acara Selekta Pop TVRI, membawakan lagu "Sirkuit" dari album Sirkuit yang dirilis tahun 1987, tak terasa telah membius Arief kecil menjadi seorang vokalis merangkap bassis. Yang harus digarisbawahi dari band ini adalah walau beranggotakan tiga orang, band ini mampu menampilkan kesan megah dari setiap pertunjukannya. Kemampuan individual Arthur Kaunang dkk yang multi talenta membuat setiap pertunjukannya istimewa, mematahkan anggapan bahwa formasi trio itu kurang untuk sebuah band. Legenda trio rock Indonesia ini tidak membubarkan diri secara resmi dan masih menginspirasi hingga kini, dengan diskografi 10 album lebih.

Pada 90-an awal, demam nonton TV terjadi ketika TV swasta mulai masuk di layar kaca kita. Ada yang mencuri hati, ketika pada umumnya rocker itu gondrong tinggi ganteng dan bersuara tinggi dan nyaring, tiba-tiba ada yang teriak-teriak lantang terdengar di saluran musik MTV Indonesia di ANTV pada waktu itu. Walaah...Walaah... ini orang udah botak, suara cempreng, pede lagi. Bagi saya, gokil ini orang. Band ini yang buat saya beralih dari pemain drum jadi pemain bass dan teriak-teriak, hehe. Dari hanya fans, sekarang mereka adalah panutan juga teman.

NTRL—atau dulu disebut Netral—nama band singkat nan padat, disulut di tahun 1991 dan meledak di tahun 1995. Band yang berformasi awal Bagus (bass, vokal), Miten (gitar), dan Bimo (drum) menjadi ikon trio rock Indonesia, di mana era alternative rock sebagai gelombang besar yang menggulingkan dinasti kejayaan glam rock, di dunia yang menuntut kesempurnaan menjadi kejujuran, dan orisinalitas sebuah karya musik. Di Indonesia, Netral menjadi punggawa perubahan itu.

Di antara band yang ikut andil seperti PAS band dan Pure Saturday dari Bandung, Karpet dari Surabaya, Rotor dan Plastik dari Jakarta dan masih banyak band yang lainya, Netral itu tampil frontal tapi puitis, dan di album-album selanjutnya, setelah masuknya Eno dan Coki, Netral terasa semakin punk. Beat yang lebih dinamis dan sound gitar yang berat, orang-orangnya yang makin gokil dengan membiarkan formasi bertiga di setiap live show-nya, membuat karakter yang kuat. saking kuatnya, perubahan nama dari Netral ke NTRL sangat tidak berpengaruh.   

NTRL (sumber foto)

Eksistensi, produktivitas dan hits-hits orisinal mereka yang membuat NTRL ini menjadi band yang berbahaya. Mereka adalah panutan dan inspirasi hingga kini bagi saya dan banyak band-band yang masih bertahan bermain bertiga dan tak perlu terburu-buru merasa tua, hehe. 

Ketika major label bertekuk lutut kepada musisi yang mulai menunjukan loyalitas penggemarnya, pasar indie label dan band-band underground mulai dilirik. Superman Is Dead adalah band yang dipinang oleh Sony-BMG, dan ini menjadi momentum kebangkitan band-band merdeka melangkah ke skala nasional. Merekrut band arus pinggir menjadi tren industri musik pada waktu itu. Ada beberapa band yang dilamar label-label besar, di antaranya ada Shaggydog dan Karpet oleh EMI, serta Burgerkill dan Rocket Rockers oleh Sony Music. 

Superman Is Dead, band punk rock asal Bali yang terbentuk tahun 1995 dengan formasi Jerinx (drum), Bobby Kool (gitar, vokal), dan Eka Rock (bass). Band yang sarat dengan keberandalan dan pemberontakannya, tersirat dari lirik-liriknya yang kuat, erat dengan pergerakan, perlawanan, dan kritik sosial tetapi tidak menampakkan diri sebagai sekumpulan pahlawan.

Di balik cerita jatuh bangun perjuangan dan kerja kerasnya banyak menginspirasi banyak orang. Konsisten dengan karakter musik trio punk rock-nya, walaupun menggunakan additional musician untuk format live show-nya yang tidak sedikitpun mengurangi nilai bahaya dari band ini.

Superman Is Dead (sumber foto)

Superman Is Dead juga berhasil menyabet beberapa prestasi dan penghargaan. Yang "cool" dari band ini adalah bermain musik tidak hanya sekadar memainkan musik, tapi keselarasan antara lirik yang disuarakan dengan sikap dan pendirian mereka. Hal itu yang tidak mudah, menjadikan band ini berbahaya dan membahayakan.

Memasuki era 2000-an, di mana pangsa musik mulai membuka diri dengan selera-selera baru, teknologi dan media sosial menjadi senjata paling ampuh saling berlomba untuk memanfaatkannya. 

Endank Soekamti, band dengan segudang kreativitas dibesarkan oleh tiga pemuda asal Yogyakarta: Erix (bass, vokal), Dory (gitar, vokal), dan Ari ( drum), memberikan energi baru berupa kenakalan, kegilaan, dan riang gembiranya para pemuda-pemudi, memecahkan hal-hal serius menjadi hal-hal ringan di pikiran para pendengarnya.

Mereka juga berhasil membawa keriangannya ke sebuah eratnya persaudaraan yang diwadahi dalam "Kamtis Family", menjadikannya salah satu band dengan base massa yang besar di seluruh penjuru Indonesia. Formasi Endank Soekamti berubah di tahun 2017, Ari digantikan oleh Toni.

Penguasaan teknologi juga sangat dimanfaatkan band ini, dari audio sampai visual. Mereka juga mengaplikasikan teknologi dalam format live show-nya yang menggunakan synthesizer untuk mendukung kualitas konsernya.

Endank Soekamti (sumber foto)

Endank Soekamti mempunyai daya vitalitas dan kreativitas yang sangat tinggi. Dari bikin studio rekaman, radio, label rekaman sendiri, museum, box set, vlog fest, Soekamti Karaoke dan masih banyak lagi, membuat band ini mandiri membentuk karakternya sendiri sebagai Endank Soekamti tanpa embel-embel genre yg mendominasi.

Dua personelnya berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mengayomi di luar nalar. Bagaimana sosok bengal mereka pertama kali muncul sebagai band punk, kini Erix dengan segala proyek dari sekolah gratisnya (Does University), pengarsipan keindahan alam Indonesia, dan masih banyak lagi. Sedangkan Dory concern di bidang publisher yang membantu musisi-musisi lokal dengan Euforia Music Publisher dan Radio Soekamti-nya. Band ini bukan hanya sekadar band, tapi sudah mengarah pada institusi yang memberikan banyak manfaat bagi banyak orang.

Dari empat band barusan yang mewakili eranya membuktikan bahwa bermain bertiga itu cenderung lebih berbahaya. Walaupun masih ada beberapa band trio juga yang masih eksis dan konsisten seperti Gugun Blues Shelter, Blingsatan, Kelompok Penerbang Roket, dan masih banyak lagi. Semoga ini menjadi wacana buat kawan-kawan band yang masih bertahan bermain bertiga dan terus tetap bertiga.



    0 Comments

Latest News

1  Extreme Music for Extreme People!
Extreme Music for Extreme People!

Indonesia, negara yang demografi dan sosio kulturalnya beragam, begitu juga dengan musiknya. Dari...