Agung Hellfrog: Jurnal Burgerkill Menginvasi Eropa (Part 2)

  • By: Agung Hellfrog
  • Kamis, 13 December 2018
  • 657 Views
  • 2 Likes
  • 16 Shares

Lanjutan dari Part 1...

25 Oktober-Simplon Groningen, Belanda

Kali ini kami akan bermain di youth center di kota ini. Dulunya tempat ini adalah pabrik yang sudah tidak terpakai dan akhirnya dialihfungsikan menjadi youth center. Sedikit cerita, pemerintah Belanda selalu mengalihfungsikan tempat/bangunan yang sudah tidak terpakai, dan setiap kota di Belanda diwajibkan mempunyai youth center.

Seperti grafik yang terus naik, venue kali ini lebih besar dari tiga panggung sebelumnya. Youth center ini sendiri memang diperuntukan sebagai venue yang proper untuk membuat sebuah acara. Karena dalam satu area sudah terdapat semua detail yang diperlukan untuk sebuah event, mulai dari venue besar, hotel yang langsung di belakang venue, akses backstage khusus, stage permanen yang sangat ideal untuk event besar, sampai pengukur decibel digital yang ada di venue. Di sini juga pertama kalinya kami bermain dengan DeadSquad yang juga sedang melakukan tur. 

Banyak hal berkesan yang terjadi saat itu, selain dari lineup yang semuanya dari Indonesia, dan banyak metalhead yang datang ke sana. Salah satu hal berkesan lainnya terjadi sebelum kami manggung. Saat itu saya dan Eben sedang merokok di luar venue sampai akhirnya kami dihampiri oleh dua orang yang salah satunya mengenakan kaus Cannibal Corpse, dan dia bilang "Lo Burgerkill kan?" terus saya jawab "Iya." Lalu mulailah daily conversation; nice to see you, bla bla bla. Lalu orang tersebut bilang "Lo tau gue ngikutin tentang Burgerkill?" Akhirnya dia nunjukin kalau dia sudah mencatat jadwal tur kami di Eropa, dan juga memperlihatkan koleksi-koleksi Burgerkill yang dia punya dan dia bilang "Gue kesini buat nonton kalian" lalu akhirnya kami ngobrol sampai akhirnya harus siap-siap untuk perform. Buat saya pribadi itu adalah salah satu hal yang sangat berkesan.

Ternyata kejadian berkesan lainnya terjadi di dalam venue. Saat saya masuk ke dalam, saya melihat sebuah kursi roda di depan panggung, di kursi roda itu ada seorang anak yang memang sepanjang hidupnya hanya bisa berada di kursi roda, tidak bisa bergerak tapi masih bisa berkomunikasi. Saat itu mba Intan menghampiri saya dan bilang ke saya "Gung, anak itu (yang di kursi roda) ke sini sama bapak dan kakaknya. Dia ke sini untuk kalian, dia penasaran pengen lihat Burgerkill." Terus terang saya terenyuh melihat bagaimana support orang tua, dan juga effort si anak yang menunjukan langsung ke saya bahwa kondisi fisik bukanlah apapun.

Menariknya, anak di kursi roda tersebut menonton tepat di depan stage, dan di sinilah hal yang unik terjadi, karena ada anak itu di depan stage, terjadi perubahan posisi penonton. Yang saya maksud adalah sudah hal lumrah jika para penonton yang ingin menikmati pertunjukan akan mengambil tempat paling dekat dengan stage. Namun yang terjadi malam itu justru kebalikannya, karena ada anak itu di depan stage, penonton yang lain dengan sendirinya menyadari untuk menyediakan space bagi si anak dan bersedia moshing sedikit lebih ke belakang.

26 Oktober-Melkweg Amsterdam, Belanda

Sebelum manggung, Ricky (Insanity) bilang ke saya, "Lo harus browsing Melkweg tuh apaan." Setelah saya browsing, Melkweg itu ternyata venue besar dan merupakan venue internasional karena band rock dan pop internasional pasti ke situ, oleh karena itu semua orang di Amsterdam tahu tentang Melkweg.

Setelah kemarin saya terpukau oleh venue di youth center, hari itu saya lebih terpukau lagi setelah melihat Melkweg, karena emang keren banget. Dengan stage megah dan kapasitas penonton yang besar. Selain itu untuk area moshpit mereka menggunakan bahan sejenis karet (saya kurang tahu pastinya) yang jelas tidak keras, untuk melindungi orang yang terjatuh saat moshing. Setelah terpukau oleh stage, akhirnya saya menuju backstage untuk simpan alat dll, dan ternyata backstage-nya juga berhasil bikin saya kaget. Karena ternyata backstage-nya bisa dibilang mirip lounge, jadi setiap band yang perform dibuatkan ruangan masing-masing yang lengkap dengan dressing room, kamar mandi, meja makan, dan akses ke smoking room.

Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya; seperti grafik yang terus naik, karena tiap titik seolah di-upgrade baik itu dari stage dan fasilitas yang ada di venue. Hal lain yang menarik adalah akses ke area backstage yang menggunakan kode khusus, alasannya adalah karena mereka mengerti pentingnya privasi dan sekuritas yang dibutuhkan oleh band yang tampil. Satu pertanyaan yang dilontarkan oleh tim event di sana adalah "Apakah ada lagi yang kalian butuhkan?” Saya bingung jawabnya karena ini sudah lebih dari cukup, hehe.  Selain dari venue yang semakin upgrade, dari sisi penonton saya juga melihat beberapa orang yang sebelumnya ada di titik sebelumnya.

28 Oktober-Baroeg Rotterdam, Belanda

Ini adalah titik terakhir dari rangkaian tur kami di Eropa. Jarak dari Eindhoven cukup jauh ke Rotterdam, dan selain itu juga karena sudah mulai masuk musim dingin, suhu saat itu cukup dingin. Kalau saya tidak salah ingat, saat itu suhunya nol derajat.

Kita sampai pada sore hari di venue, sampai sana saya langsung simpan barang dan karena belum waktunya soundcheck, saya keluar lagi untuk merokok. Saat itu ada seorang  inhouse venue yang juga keluar untuk buang sampah, karena melihat saya lagi merokok, lantas dia menghampiri dan bilang ke saya "Lo bakal kedinginan kalau ngerokok di sini." Terus saya jawab saja dengan polosnya, "Iya dingin, tapi gue pengen ngerokok." Akhirnya dia malah ngajak saya ke dalam yang otomatis bikin saya nanya lagi, "Emang ada tempat rokok?" Jawaban yang dia kasih adalah "Ada, kita bikin." Dalam hati saya langsung mikir "Bikin smoking room???"

Setelah mengikuti orang itu, akhirnya ditunjukkanlah smoking room emergency yang merupakan space yang ada di venue yang terletak antara bar dan area stage, tapi gak ditutup, hanya dilapisi kain agar tidak terlihat. Saya yakin teman-teman banyak yang rada bingung membayangkan lokasi yang saya ceritakan barusan. Poinnya adalah orang tersebut mau membantu saya yang tidak dia kenal agar saya tidak kedinginan (God bless you, sir).

Saat saya lagi di smoking room tadi, saya melihat band-band yang telah main di venue tersebut, salah satunya adalah Cannibal Corpse, Monstrosity, Deicide dan band-band metal lainnya yang sudah dengar sebelumnya ternyata pernah main di tempat ini. Setelah sebelumnya kami manggung di venue legendaris untuk genre yang lebih general, kali itu kami akan main di venue yang memang spesifik untuk genre metal.

Saat itu juga ada orang lain yang ikut masuk ke tempat tersebut, di mana orang tersebut juga inhouse di situ. Dari situlah saya mulai mencari informasi. Ternyata tempat tersebut sudah ada dari tahun 80-an, dulunya tempat itu merupakan youth center tapi saat ini mungkin lebih tepat disebut sebagai "metal" center karena memang tidak ada musik lain selain metal yang main di sana.

Selain itu, di sana juga ada volunteer untuk setiap event yang diadakan di tempat itu, kurang lebih ada 60 orang. Meskipun hanya sebatas volunteer, mereka tetap menjalankan job desc mereka dengan baik, karena kita dijamu dengan baik. Satu hal yang menarik yang dia bilang ke saya adalah "Nanti jangan kaget ya kalau misalnya nanti ada tempat uang yang diputer." Saya langsung tanya "Emangnya buat apa?" ternyata uang itu nantinya mereka sumbangkan.

Tempat itu adalah titik terakhir dari rangkaian tur Burgerkill di Eropa. Setelah itu Gebeg cs dan DeadSquad harus pulang ke Indonesia duluan, kami tetap tinggal untuk pembuatan video klip.

Meet The Photographer

Besoknya Mulucraze (clothing company) bilang ke kami kalau mereka punya fotografer dan langsung kami bikin appointment sama si fotografer yang dimaksud di Dusseldor, Jerman. Kami ketemu dan ngobrol macam-macam mengenai konsep dan lain-lain, setelah ngobrol akhirnya ketahuan kalau ternyata dia adalah fotografer untuk band Kreator.

Singkat cerita kami melakukan photo session di studio miliknya, dan langsung saja kami tanya apakah boleh jika memakai foto ini untuk rilisan Burgerkill selanjutnya, dan ternyata boleh, hehe.

Shooting

Malamnya kami pulang kembali ke Eindhoven, dan besoknya langsung lanjut ke proses syuting untuk video klip. Sisa hari, kami menghabiskan waktu untuk syuting video klip sampai pada hari terakhir sebelum pulang ke Indonesia.

Akhirnya kami menemukan satu spot yang cukup sulit ditemukan sebelumnya. Karena untuk keperluan video klip, kali ini kami perlu gambaran yang memang tempatnya agak industrial atau bangunan kosong. Dan di sana ternyata sulit untuk menemukan gedung kosong atau tidak terpakai, karena pemerintah di sana langsung mengalihfungsikan apabila ada bangunan yang tidak terpakai. Sampai akhirnya kami menemukan tempat yang cukup menggambarkan apa yang kami inginkan.

The Lucky Bastards

Yang paling kami syukuri dari perjalanan ke Eropa adalah kami tidak hanya sekedar manggung di sana. Untungnya kami tidak diam di hotel sehingga punya banyak kesempatan untuk belajar banyak hal, mulai dari culture, behavior, dan tentunya bisa mengembangkan network yang kami punya saat ini. Dan ternyata teman-teman Burgerkill yang lain juga mempunyai niatan yang sama, untuk selalu memanfaatkan waktu dan momen itu.

Hal lain yang kami syukuri adalah meskipun saat itu jauh dari rumah, banyak teman-teman kami di sana, baik teman-teman baru atau lama, yang selalu bersedia membantu. Sampai akhirnya saya dan teman-teman di Burgerkill merasa bahwa Burgerkill adalah "The lucky bastard." Mungkin sebuah kesimpulan yang cukup aneh. Namun jika dilihat dari kejadian-kejadian, pengalaman serta pembelajaran yang kami dapat di sana, mungkin memang "we are the lucky bastards." (selesai)



    0 Comments

Latest News

1  Adjie 'Down For Life': Musik Keras dan Sepak Bola, Sama-Sama Gilanya! (Part 2)
Adjie 'Down For Life': Musik Keras dan Sepak Bola, Sama-Sama Gilanya! (Part 2)

Baca bagian pertama di sini. Huft, AC Milan kalah dan tersingkir dari kancah Europe League....