Adjie 'Down For Life': Musik Keras dan Sepak Bola, Sama-Sama Gilanya! (Part 2)


Baca bagian pertama di sini.

Huft, AC Milan kalah dan tersingkir dari kancah Europe League. Rossoneri belum kembali mengerikan seperti pada masa jayanya. Oke, setelah di bagian pertama membahas musik keras dan sepak bola luar negeri, sekarang giliran dalam negeri, Indonesia. Meski sepak bola tanah air bisa dikatakan prestasinya begitu-begitu saja, tapi masalah fanatisme, kegilaannya, tidak kalah dengan luar negeri. Bahkan mungkin lebih gila karena masyarakat Indonesia tetap mencintai sepak bolanya meski minim prestasi.

Tidak banyak pemain sepak bola Indonesia yang menyukai musik keras. Kebanyakan pemain sepak bola di sini lebih menyukai musik pop atau dangdut karena faktor budaya yang berbeda. Namun tercatat ada beberapa pemain sepak bola Indonesia yang menyukai musik keras. Kerry Yudiono, mantan pemain Persita Tangerang, Arema, dan beberapa klub lainnya, yang sekarang sudah gantung sepatu, menyukai musik rock dan metal. Dia sering mengunggah videonya bermain gitar memainkan lagu-lagu Lamb of God, Metallica, dan lainnya di akun Instagram pribadinya. Pemain muda Persita, Mikha Vialli, dulunya sempat bermain drum untuk band metalcore dari Jakarta, Madonna of The Rock dan sempat merilis 1 album. Aktivitasnya sebagai pemain sepak bola profesional membuatnya tidak mempunyai cukup waktu lagi untuk bermain band.

Mantan libero tim nasional Indonesia yang sekarang menjadi pelatih Persela Lamongan, Aji Santoso, adalah fans berat dari band legendaris God Bless. Kepada Juara.net, dia menyebut lagu “Bla Bla Bla” adalah lagu favoritnya. Saat menjadi pelatih Arema, lagu-lagu rock kerap diputar di ruang ganti Arema untuk penyemangat sebelum latihan maupun bertanding.

Geser ke lainnya, di sebuah wawancara dengan Bola.com Indra Sjafri saat menangani Bali United beberapa musim lalu juga melakukan hal yang sama. Dengan mayoritas bermaterikan pemain muda, coach Indra sering memutarkan band-band rock seperti Linkin Park, Avenged Sevenfold sampai band punk kenamaan Bali, Superman Is Dead, di ruang ganti Stadion I Wayan Dipta. Bahkan Superman Is Dead juga membuat lagu khusus untuk klub berjuluk Serdadu Tridatu ini. Tapi yang paling unik adalah seorang pemain sepak bola yang sekarang bermain untuk klub yang baru promosi ke Liga 1, PSS Sleman, bernama Dave Mustaine. Tapi dia sendiri mengaku tidak terlalu suka lagu-lagu Megadeth, mungkin hanya ayahnya yang menggilai band thrash metal ini.

Memang tidak banyak pemain sepak bola nasional yang menyukai musik keras, berbeda dengan kebalikannya. Musisi musik keras yang menyukai sepak bola sangatlah banyak. Kali ini tidak hanya rock/metal tapi juga punk yang akan dibahas. Mungkin Indonesia bisa disamakan kegilaannya seperti di Inggris atau Brasil. Meski mayoritas menyukai sepak bola internasional.

Stevi Item, gitaris Deadsquad, dan Eben dari Burgerkill dikenal sebagai fans berat klub asal London, Chelsea. Sementara Andre Tiranda dari Siksakubur adalah seorang Liverpudlian dan Milanisti. Vokalis Gigantor, Rizki Syahputra, sangat menggilai Juventus, bahkan saat ini dia menjadi presiden fans club Juventus di Indonesia. Koleksi jersey Juventus-nya cukup banyak yang rare, bahkan beberapa match worn atau bekas dipakai pemain untuk bermain. Selain mereka pasti masih banyak lagi musisi musik keras yang juga fans sepak bola, karena sepak bola merupakan olahraga paling digilai di negeri ini.

Bagaimana dengan pengemar sepak bola nasional? Tentu juga banyak. Vokalis Straight Answer, Aca, adalah penggemar Persija Jakarta. Saya masih ingat saat di Belukar Rockshop Solo, suatu sore tiba-tiba Aca datang dengan baju, celana, topi, kaos kaki dan sepatu warna oranye untuk mendukung Persija yang menjalani partai usiran di Stadion Manahan Solo. Dia juga sering terlihat mendukung langsung Persija saat bertanding di Stadion GBK Jakarta.  Baru-baru ini Aca juga mengunggah sebuah video yang berisi chant nyanyian untuk Marko Simic, striker haus gol milik Persija.

Beberapa waktu lalu, Aca sempat mengalami sakit cukup parah yaitu pendarahan di kepala karena hipertensi. Dukungan mengalir tidak hanya dari kalangan musisi tapi juga dari teman-teman Jakmania, bahkan legenda Persija dan timnas Indonesia, Bambang Pamungkas juga menjenguknya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

@persijajkt ????????????CHAMP11ONS????????????????????????????????????????????

A post shared by Fadhila Jayamahendra (@xmadeofstonex) on

Dari Jawa Timur, eks vokalis Karat, Ferry Murrieta, dikenal sebagai suporter garis keras Persela Lamongan dan sekarang membuat band khusus untuk mendukung tim kesayangannya bernama Determinate. Seperti Aca, dia juga sering mengawal tim Persela saat bertandang ke beberapa kota dalam kompetisi Liga 1. Dari bumi Kalimantan, vokalis karismatik Akbar Haka dari Kapital, juga sering memberikan dukungan untuk klub dari kotanya Tenggarong, Mitra Kukar. Tapi sayang sekali klub ini terdegradasi ke Liga 2 musim ini.

Dan saya sendiri, hehe, juga menganggap sepak bola seperti agama. Kegilaan saya terhadap sepak bola terutama sepak bola Indonesia dimulai sejak kecil saat almarhum ayah saya mengajak menonton Arseto di Stadion Sriwedari Solo. Pindah ke Yogyakarta, saya menonton Mataram Indocement dan PSIM. Saat balik lagi ke Solo jadi menonton dan mendukung Pelita Solo, Persijatim Solo FC dan Persis Solo.

Sekarang karena tinggal di Jakarta, saya sering menonton Persija di Stadion GBK dan Stadion Patriot di Bekasi. Tapi bukan berarti terus menjadi Jakmania, saya hanya suka menonton sepak bola terutama Indonesia, termasuk tim nasional Indonesia meski sering dikecewakan akan hasilnya, tapi itu tidak mengurangi kecintaan saya terhadap sepak bola nsional. 

Saya juga mengoleksi jersey orisinal klub-klub Indonesia dari berbagai kasta liga dan beberapa adalah match worn yang saya dapatkan langsung dari pemain, seperti jersey Mitra Kukar dari Anindito Wahyu, Persipura dari Boaz Salossa dan lainnya.

Di Down For Life, mungkin hanya Rio Baskara yang tidak suka sepak bola. Tapi yang paling gila sepak bola mungkin cuma saya. Down For Life sendiri mempunyai lagu berjudul “Pasoepati” yang dipersembahkan untuk kelompok suporter Solo. Lagu ini tedapat di album pertama, Simponi Kebisingan Babi Neraka, yang dirilis di tahun 2013. Lagu tersebuat juga menjadi soundtrack film dokumenter Ojo Wedi Dadi Abang karya Arum Tresnaning Tyas Dayu Putri, sekarang bermain musik bersama Tetangga Pak Gesang, yang dirilis di tahun 2007.

Sepak bola Indonesia memang lekat dengan kekerasan suporter yang seringkali mengorbankan nyawa. Menyikapi hal ini, saya bersama Down For Life melakukan aksi saat tampil di Synchronize Festival 2018 dengan menggunakan jersey klub-klub Liga 1 dan 2. Jersey Persija, Persib, Arema, dan Persebaya tidak kami pakai karena protes terhadap rivalitas dan fanatisme sempit yang melibatkan keempat pendukung klub tersebut.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Matur nuwun @synchronizefest Bermain di festival multi genre ini adalah partai tandang yg menantang apalagi di ibukota. Tapi kami adalah bajingan-bajingan kota Bengawan dengan Pasukan Babi Neraka dan metalhead yg selalu mendukung. Penampilan kemarin kami dedikasikan untuk perdamaian suporter dan sepakbola Indomesia. Untuk pertama kalinya kami semua memakai jersey klub Liga Indonesia dari berbagai kasta dan daerah yaitu Mitra Kukar, Persipura, Sriwijaya, PSM Makassar dan tentu Persis. Kami sengaja tidak memakai jersey Persija, Persib, Arema dan Persebaya..sampai Jakmania, Viking/ Bobotoh, Aremania dan Bonek juga yg lain berdamai. Mungkin ini tidak berarti banyak dan utopis tapi kami selalu yakin bahwa sepakbola Indonesia adalah pemersatu bangsa. Karena kami mencintai sepakbola..mencintai Indonesia. Semoga semesta memberkati kita semua. Rahayu Foto oleh @tebbywibowo #downforlife #pasukanbabineraka #metal #indonesianmetal #SynchronizeFest #SynchronizeFest18

A post shared by down for life (@downforlifesolo) on

Saat ini Down For Life bekerja sama dengan para penggiat jersey klub Indonesia merilis merchandise berupa jersey sebagai kampanye untuk membeli jersey orisinil sebagai bentuk dukungan langsung terhadap klub di Indonesia. Sebelumnya hal serupa juga dibikin saat merilis box set album Himne Perang Akhir Pekan.

Beberapa contoh di atas adalah tentang individu, sementara secara kolektif band juga banyak. Contoh Bandung yang bisa dikatakan sebagai ibu kota musik underground Indonesia, dekade ini sudah memulainya. Tahun 2002 sebuah kompilasi dirilis Viking Persib Club Record dengan menampilkan band-band cutting edge kota Bandung, seperti Mobil Derek, Pas Band, Koil, Savor of Filth, dan Jeruji dengan lagu fenomenalnya “Wasit Goblog!” Kesuksesan kompilasi ini dilanjutkan dengan edisi kedua yang menampilkan Turtles Jr, Forgotten, Seurieus sampai Mocca dan Kang Ibing.  

Tidak kalah dengan Bandung, kota-kota lain dengan kelompok suporternya juga beberapa merilis album kompilasi serupa. The Jakmania, kelompok suporter Persija Jakarta beberapa kali juga merilis album kompilasi, salah satunya berjudul Original Culture, yang dirilis bekerja sama dengan Koalisi Records di tahun 2015. Berisi lagu-lagu dari Gondal Gandul, Mental Baja, Merseyside, Kojek Rap Betawi dan lain – lain. Brigata Curva Sud (BCS), kelompok suporter PSS Sleman juga sudah merilis 3 album kompilasi. Terakhir di tahun 2017, kompilasinya berisi band-band di antaranya Sang Wilis, FNB, Storia, Campus Mbois, Green Riot dan lainnya. Masih banyak beberapa kompilasi dari kelompok suporter dari beberapa kota lain di Indonesia.

Kegilaan ini tidak hanya sebatas kompilasi. Band Oi! Street Punk kebanggaan Yogyakarta, DOM 65, adalah salah satu band yang identik dengan sepak bola. Dikutip dari www.fortunazine.wordpress.com dan pembicaraan dengan Adnan, bassis band yang bermarkas di barat Stadion Mandala Krida, DOM 65 mengaku sebelum menggeluti musik mereka lebih dulu bangga menjadi pendukung tim Laskar Mataram. Band yang terbentuk pada 1997 ini, pertama kali menciptakan lagu tentang PSIM pada tahun 2001, berjudul “Fortuna”. Lalu lagu “Never Rush” dan “Stone War”. Setiap lagu mempunyai makna dan cerita tersendiri berdasarkan pengalaman mereka ketika mendukung tim kesayangannya. Band ini juga merilis merchandise berupa jersey sepak bola berwarna biru, warna kebesaran PSIM.

Satu hal yang menarik adalah lagu band celtic punk dari Solo, The Working Class Symphony, berjudul “Satu Jiwa” dijadikan lagu anthem untuk Persis Solo. Lagu ini selalu berkumandang dinyanyikan oleh kelompok suporter Pasoepati sebelum tim berjulukan Laskar Samber Nyawa ini bertanding.

Segala bentuk kegilaan dan fanatisme tersebut tidak hanya menghasilkan hal yang positif. Ada beberapa negatif yang seringkali terjadi karena fanatisme yang sempit. Hal ini pernah saya alami bersama Down For Life. Tahun 2012 saat kami bermain di Kick Parade, sebuah gelaran clothing expo terbesar di Yogyakarta. Saat kami tampil, tiba-tiba sekelompok oknum dengan membawa bendera PSIM membuat rusuh dengan memukuli Pasukan Babi Neraka yang ada di arena moshpit dan mencaci maki kami. Hal ini terjadi karena faktor rivalitas antara suporter Persis Solo dan PSIM. Ditambah isu ngawur yang mengatakan saya membakar jersey PSIM, padahal saya mengoleksi jersey klub-klub Indonesia. Teror semacam ini juga terjadi lagi beberapa bulan kemudian tapi masih dalam tahap wajar. Tapi setelah tahun 2014 kami bermain lagi di Jogja, kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Kami diterima dengan baik dan mendapat sambutan yang luar biasa setiap bermain di Jogja. Mungkin hal ini juga dialami band-band lain yang bahkan tidak mempunyai hubungannya dengan sepak bola.

Rivalitas kelompok suporter antar kota yang mempunyai sejarah pertikaian panjang seperti Jakarta-Bandung, Malang-Surabaya, dan Solo-Jogja juga kota lainnya berimbas pada hal-hal lain di luar sepak bola. Fanatisme sempit dari sejumlah oknum yang mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Bagi saya musik, terutama musik keras, dan sepak bola seharusnya memberi hiburan bagi semua orang. Keduanya bisa menghasilkan suatu prestasi dan karya yang membanggakan, bukan mencelakakan.

Saya tidak setuju kemudian ada yang menyalahkan musik keras dan sepak bolanya. Saya juga tidak setuju musik dan sepak bola harus dipisahkan. Keduanya bisa bersinergi menghasilkan kebaikan. Fanastisme yang sempit dan salah kaprahlah yang harus disalahkan. Karena bagi saya, musik keras dan sepak bola bisa menyatukan kita semua. Priiit, tanda peluit akhir. Saya harus mandi dan berangkat ke kantor. Sampai jumpa di pertandingan berikutnya. Salam olahraga!

*Foto: Dokumentasi pribadi penulis



    1 Comments
  • rezakunchunk
    • rezakunchunk
    • 6 months ago
    Menjadi inspirasi dan masih teringat di saat DFL maen di Jogja ada accident tentang bola di acara musik keras hehe tp lupa tahun nya disaat ramai perbincangan antara Solo Fc dan Pss sleman

Latest News

1  Extreme Music for Extreme People!
Extreme Music for Extreme People!

Indonesia, negara yang demografi dan sosio kulturalnya beragam, begitu juga dengan musiknya. Dari...