Adjie 'Down For Life': Musik Keras dan Sepak Bola, Sama-Sama Gilanya! (Part 1)


Kompetisi kasta tertinggi di Indonesia, Liga 1 2018, baru saja usai. Klub kebanggaan ibu kota, Persija Jakarta, keluar sebagai juara dengan menyisihkan PSM Makassar dengan selisih 1 poin dalam persaingan yang sangat ketat sepanjang tahun. Euforia dan kegilaan rakyat Indonesia memang luar biasa, di tengah carut marut isu mafia pengaturan skor, settingan dan prestasi jeblok tim nasional di AFF Cup 2018.

Saya tidak akan membahas dan sok tahu tentang isu–isu panas tersebut di sini. Dari pada saya hanya omong kosong dan menambah ricuh tanpa memberi solusi seperti mas dan mbaknya di sana tuh. Biarlah yang lebih paham dan yang punya wewenang untuk menyelesaikannya.

Berbicara musik keras dan sepak bola akan sangat panjang dan luas. Ada dua hal di dunia ini, yang menurut saya mempunyai tingkat fanatisme dan loyalitas yang setara, yaitu sepak bola dan music rock. Keduanya sangat menyenangkan sekaligus memabukkan. Oke, saya akan mulai. Saya tidak akan membahas musik punk Inggris atau britpop/britrock yang memang sudah erat kaitannya dengan sepak bola. Karena saya seorang metalhead, jadi bahasannya seputar hard rock dan heavy metal saja. Langsung... Priiiitttt…!

Iron Maiden, legenda heavy metal dan salah satu pelopor dari New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM) memang dikenal sebagai band yang sangat menggilai sepak bola. Pentolan sekaligus pembetot bass Steve Harris dikenal sebagai fans garis keras West Ham United. Kerap tampil memakai jersey dan syal West Ham United saat manggung. Stiker logo klub London utara ini pun sering kali menempel di bass Fender Precision miliknya. Disebut saat remaja, Steve Harris pernah masuk tim West Ham junior. Bahkan dia membuat kesebelasan sendiri bernama Maidonians yang identik dengan warna kebesaran West Ham United. Selain itu dia juga mempunyai klub sepakbola U-10 bernama Maiden Youth yang berasal dari London timur dan berlaga di Liga Essex.

Tidak mau kalah dengan Steve Harris, sang vokalis, Bruce Dickinson, juga seorang penggila sepak bola. Tapi berbeda dengan Harris, Bruce adalah fans berat dari Glasgow Rangers. Saat klub langganan juara Liga Skotlandia ini berlaga melawan Hapoel Tel Aviv di UEFA Cup di tahun 2007, Bruce, yang memang mempunyai lisensi pilot, menerbangkan pesawat khusus yang membawa seluruh tim dari Glasgow ke Tel Aviv.  Kebetulan juga manajer Rangers saat itu, Walter Smith juga seorang Trooper, sebutan bagi penggemar Iron Maiden.

Meski dalam sebuah wawancara Lemmy mengatakan lebih suka rodeo daripada sepak bola, tapi ternyata Motorhead pernah menjadi sponsor penuh sebuah klub sepak bola usia dini, Greenbank FC, di musim kompetisi 2006/2007. Sebuah klub asal North Hykeham, daerah East Midlans Inggris bagian timur. Klub ini berlaga di Lincoln Sunday Football League atau kompetisi amatir usia dini di daerah Lincolnshire. Bahkan jersey kebesaran Greenbank FC pun berubah menjadi hitam seperti warna khas Motorhead dan maskot baru yaitu Snaggletooth yang terinspirasi dari logo Motorhead. Bahkan setiap klub ini memasuki lapangan sebelum bertanding, lagu “Ace of Spades” berkumandang. Sadis! Usut punya usut ternyata manajer Greenbank FC adalah mantan tur manajer Motorhead di tahun 80-an, Gary Weight.

Seperti halnya Motorhead, Heaven Shall Burn, band metalcore ternama Jerman, menjadi sponsor utama untuk klub divisi 3 Bundesliga, Carl Ziess Jena selama beberapa musim. Menurut sang vokalis, Marcus Bischoff, mereka adalah pendukung utama Ziess dan akan terus mendukung tim lokal kota mereka.

Tom Araya, vokalis dan bassis monster thrash metal dunia, Slayer, beberapa kali juga manggung memakai jersey tim nasional Chili saat tim negara ini berlaga di Piala Dunia. Araya memang asli keturunan Chili yang berimigrasi ke Amerika. Sementara para personel In Flames terutama sang vokalis, Anders Friden, adalah fans berat klub Swedia, IFK Goteborg. Dia juga beberapa kali manggung memakai jersey klub ini.

Berbicara tentang Brasil dan sepak bola adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Demikian juga dengan Sepultura dengan Brasil. Saya masih ingat majalah Hai menyambangi markas mereka di Sao Paolo, saat sebelum Sepultura ke Indonesia untuk konser pertama kalinya di tahun 1992. Terlihat Andreas Kisser memakai jersey Sao Paolo dan sering para personel Sepultura terlihat memakai jersey tim nasional Brasil atau klub Brasil lainnya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Total Guitar, mantan vokalis dan gitaris Sepultura, Max Cavalera, bilang bahwa di rumahnya ia menyimpan lebih dari 5000 jersey klub sepakbola dari seluruh dunia dan mendapat jersey kiper timnas Brasil, Marcos, saat menjadi juara Piala Dunia 2002, yang masih kotor keringat dan lumpur sampai sekarang. Dan seringkali Max tampil bersama bandnya sekarang, Soulfly maupun Cavalera Conspiracy, dengan memakai jersey warna kuning tim nasional Brasil.

Terus bagaimana dengan pesepakbola internasional?

Kebanyakan pemain sepak bola dunia lebih menyukai musik hip hop, R&B, dance music dan musik latin terutama untuk pemain dari Amerika Selatan. Tapi tercatat beberapa pemain terkenal juga menggilai musik keras. Victor Valdes, mantan kiper Barcelona, memilih AC/DC dan Guns N’ Roses sebagai band favoritnya dan menjadikan lagu–lagu mereka penyemangat sebelum bertanding. Bahkan seorang penyanyi rock dari Spanyol bernama Joaquin menulis lagu berjudul Victor Valdes (El Numero Uno) dipersembahkan untuk sang kiper di tahun 2010. Mantan rekan setimnya yang juga legenda Barcelona, Carles Puyol, dikenal sebagai fans berat Napalm Death dan Cannibal Corpse.

Sementara Slipknot, Mastodon, Five Finger Death Punch dan Machine Head adalah band favorit Marcus Hahnemann, mantan kiper tim nasional Amerika Serikat dan Everton. Dia juga berteman baik dengan Justin Chancellor, bassis Tool. Mantan pemain timnas Norwegia yang sekarang menjadi seorang pelatih, Dan Eggen, terlihat ada di backstage band black metal kenamaan Satyricon dalam DVD Roadkill Extravaganza 2001. Eggen juga pernah naik panggung ber-headbang ria sambil bermain air guitar saat Pantera manggung di Spanyol.

Terry Butcher, mantan bek Inggris yang terkenal dengan cara bermainnya penuh totalitas sampai kepala berbalut perban berlumuran darah, sangat mengidolakan Iron Maiden. Bahkan dia pernah bermain untuk tim sepakbola Iron Maiden. Menurut Terry dalam wawancara dengan majalah Classic Rock, Iron Maiden sangat berpengaruh pada dirinya juga banyak orang, dan menyebutkan entah bagaimana dunia tanpa Iron Maiden. Satu kejadian menarik, saat Butcher diperkenalkan sebagai asisten manajer Skotlandia di tahun 2008, nada dering telepon genggamnya yaitu “Sweet Child O’ Mine” milik Guns N’ Roses berdering kencang. Dia juga mengaku menyukai band lawas Saxon.

Paul Mariner, dalam wawancara bersama majalah Kerrang! di tahun 1992, juga mengaku seorang Trooper dan beberapa kali menonton konser Iron Maiden. Pemain asal Inggris ini juga sempat memakai foto Eddie, maskot Iron Maiden, sebagai foto profil akun Twitter-nya. Mariner juga berteman baik dengan Ian Gillan dari Deep Purple.

David De Gea, kiper andalan Manchester United dan tim nasional Spanyol, juga dikenal sebagai metalhead. Beberapa waktu lagu dia mengunduh fotonya bersama para personel Avenged Sevenfold di backstage saat band itu mengelar konsernya di kota Manchester. Terlihat De Gea memberikan jersey Setan Merah ber-name set A7X. Dia juga mengaku sebagai penggemar Metallica dan Slipknot. Dalam ruang ganti dia sering memutar lagu metal cukup keras, yang seringkali menganggu para pemain MU lainnya, termasuk Ashley Young yang bercanda mengoloknya.

Mantan pelatih tim nasional Kroasia dan West Ham United, Slaven Bilic, bahkan juga seorang gitaris band rock Rawbau, selain mengaku mengemari Slayer, Metallica, Megadeth, Iron Maiden dan AC/DC.

Saat bermain di Liga Inggris bersama Tottenham Hotspurs, Leicester City, dan Fulham, Kasey Keller, yang juga mantan kiper tim nasional Amerika Serikat, sering kali menonton festival metal tahunan terkenal, Download Festival. Dia mengaku awalnya menyukai musik punk, tapi ketika beranjak dewasa lebih menyukai musik metal. Keller juga berteman baik dengan Max Cavalera, Justin Chancellor juga para personel System of a Down, Foo Fighters, dan Disturbed. Kepada The Seattle Times di tahun 2012, Keller bercerita kalau berteman baik dengan para personel Disturbed karena manajer band ini dari Skotlandia yang sangat suka sepakbola.

Olof Mellberg, mantan bek tim nasional Swedia, mengaku penggemar In Flames. Bahkan pada tahun 2006 menurut Daily Mirror, ia mendapat kunjungan pribadi dari band ini saat berada di tempat latihan Aston Villa. Saat itu In Flames tengah tur bersama Slayer.

Memiliki ciri khas rambut gondrong, bukan rahasia umum lagi jika Claudio Caniggia adalah pengemar musik rock. Saat Piala Dunia 1994 di Amerika berlangsung, Caniggia diundang oleh Bret Michaels dari Poison sebagai tamu dalam konser di Winconsin. Canniggia juga pernah tidak diikutkan ke Piala Dunia Prancis 1998 oleh pelatih Daniel Passarela karena menolak memotong rambut panjangnya.

Kapten Real Madrid dan tim nasional Spanyol, Sergio Ramos, menyebut Motorhead dan Guns N’ Roses adalah band favoritnya. Mei 2016, ia mengunduh fotonya bersama kekasihnya saat berjumpa dengan Axl Rose usai konser bersama AC/DC di Estadio Olinpico de la Cartjua di Sevilla. Kekasihnya, Pilar Rubio, seorang presenter kenamaan juga memiliki clothing metal yang sempat berkolaborasi dengan band thrash metal asal Kanada, Annihilator untuk sampul album Feast di tahun 2013.

Salah satu pemain lain yang terkenal sebagai metalhead adalah Tomas Rosicky, mantan pemain nasional Republik Ceko dan Arsenal. Selain sering nonton konser metal dan mengemari Metallica, In Flames dan Sylosis, dia juga pernah menjadi gitaris tamu dan manggung untuk band punk dari Ceko bernama Tri Sestry.

Sementara Jurgen Klopp, yang terkenal dengan filosofi heavy metal sepak bola dalam permainan tim yang diasuhnya, malah tidak terlalu menyukai musik keras dan lebih menyukai musik klasik dalam kesehariannya.

Tapi dari semua pemain itu tidak ada yang mengalahkan seorang Dario Dubois dalam hal kegilaan terhadap musik keras. Pemain ini mungkin tidak begitu dikenal seperti nama–nama di atas. Dia hanya bermain untuk klub-klub kecil di liga bawah Argentina seperti Deportivo Paraguayo, Victoriano Arenas, dan lainnya. Saking cintanya terhadap metal—dia adalah fans berat dari Kiss dan Alice Cooper—saat bertanding ia memakai corpse paint ala band–band black metal. Dubois juga sering menutup sponsor di jersey-nya dengan silotip sebagai bentuk protes.

Selain menjadi pesepakbola, dia juga seorang bassis untuk beberapa band, salah satunya adalah Trubuto Rock, yang beranggotakan semua pemain sepakbola dan membawakan ulang lagu–lagu dari Vox Dei, band hard rock legendaris Argentina. Dia meninggal karena ditembak oleh orang tak dikenal di tahun 2008. Tak lama kemudian setelah insiden itu, band metal asal Buenos Aires Argentina menamakan bandnya The Dario Dubois Duo untuk menghormatinya.

Bagaimana di Indonesia? Saya akan membahasnya nanti tapi ini mau nonton siaran langsung liga malam jumat dulu, hehe. AC Milan melawan Olympiacos di Europa League. Oke, sampai jumpa di bagian kedua. Salam olahraga!

Bersambung ke Part 2...



    4 Comments
  • hisman
    • hisman
    • 3 weeks ago
    1
  • Enopusvita1
    • Enopusvita1
    • 3 weeks ago
    1
  • hisman
    • hisman
    • 3 weeks ago
    1
  • hisman
    • hisman
    • 3 weeks ago
    1

Latest News

1  10 Tahun ‘Horror Vision’: Sebuah Napak Tilas
10 Tahun ‘Horror Vision’: Sebuah Napak Tilas

Ya, Horror Vision menginjak satu dekade pada 9 maret 2019. Sebagai selebrasi momen yang menentukan...