Robert Smith: Sang Juru Selamat Kancah Goth

  • By: OGP
  • Kamis, 16 August 2018
  • 1825 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Berbicara tentang peta musik 80-an, tentu tak pernah lepas dari ingar-bingar subkultur gothic. Di antara serbuan band-band ‘muram’ tersebut, nama The Cure kerap disematkan jadi salah satu grup prominen di kancah post punk/goth, bersama band-band sejawat seperti Siouxsie and the Banshees, Joy Divison, dan Bauhaus.

Kedigdayaan The Cure di lanskap musik tak lepas dari peran vital seorang Robert Smith di dalamnya. Selama kurun waktu empat dekade, Smith sukses buktikan diri jadi otak di balik kejayaan band asal Inggris tersebut. Dengan trademark dandanan nyentrik dan gaya vokal khas miliknya, kini Robert Smith dianggap jadi salah satu ikon keramat di jagat rock.

Lahir pada 21 April 1959 di area Blackpool, Inggris. Sedari kecil, Robert Smith telah menaruh minat besar pada dunia musik. Ia berasal dari keluarga pemusik – ayahnya seorang penyanyi dan ibunya soerang pianis. Smith menyebut bahwa kakak tertuanya, Richard dan Margareth turut memiliki andil dalam memperkenalkannya kepada musik rock. Richard mengenalkannya beragam pesohor rock seperti The Beatles, Rolling Stones, dan Jimi Hendrix, yang kelak menjadi inspirasi terbesar dirinya.

Seiring berjalannya waktu, Smith remaja sempat tergabung di dalam beberapa band amatir seperti The Crawley Goat Band, The Obelisk (jelmaan awal The Cure). Ia pun pernah bergabung bersama unit post-punk Siouxsie and the Banshees. Walau singkat hanya sekitar dua tahun, Smith berhasil menyumbang satu album penuh, yakni Hyæna (1984), dan kembali memutuskan fokus bersama band binaannya, The Cure.

Di awal karier bersama The Cure, Robert Smith sukses menuai pujian lewat album debut impresif bertajuk Three Imaginany Boys (1979). Album ini memuat deretan single seperti “10:15 Saturday Night” dan cover lagu  andalan milik Jimi Hendrix, “Foxy Lady”. Kesuksesan The Cure kembali berlanjut ke dua album setelahnya, Seventeen Seconds (1980) dan Faith (1981). Di album Faith, Robert Smith perlahan mulai menyuntik elemen goth di karyanya.

Baru di album keempat Pornography (1982), The Cure akhirnya menemukan jati diri sebenarnya. Album ini justru jadi perpisahan The Cure dengan corak sound post-punk primitif. Robert Smith menjelajah ke beragam spektrum bebunyian pop hingga psychedelic dengan sentuhan gelap, suram, dan dingin yang melapisi vokal kelam khas Robert Smith.

Di awal peluncurannya, Pornography dianggap sebagai album gagal, dan direspons negatif oleh pasar. Namun siapa sangka beberapa tahun selanjutnya, Pornography bertransformasi menjadi salah satu cetak biru di ranah goth. Dan paling terpenting, album tersebut adalah momen transisi sakral The Cure menuju babak terkelam mereka.

Meski mendapat respons buruk dari pasar, The Cure tetap produktif menelurkan album-album dan kerap menjalankan berbagai tur dunia. The Top (1984), The Head on the Door (1985), dan Kiss Me, Kiss Me, Kiss Me (1987) adalah bukti konsistensi mereka di belantara musik.

Kendati telah mengeluarkan tujuh album studio tak kurang dari satu dekade, The Cure baru mendulang popularitas secara global setelah melepas album paling komersial mereka, Disintegration (1989). Hebatnya album ini sukses menembus tangga lagu US Chart serta meraih sertifikasi platinum. Disintegration memuat jajaran single penting, di antaranya “Pictures of You”, “Lovesong”, “Lullaby”, hingga “Fascination Street”. Kesuksesan mereka pun kembali berlanjut ke album penuh kesembilan Wish (1992). Robert Smith dkk kian mekar dengan single “Friday I’m in Love”, “A Letter to Elise”, dan “High”.

Setelah sempat mengalami bongkar pasang personel, kini The Cure mantap dengan formasi kuintet Robert Smith, Simon Gallup, Roger O’Donnell, Jason Cooper, dan Reeves Gabrels. Sampai kini mereka telah menelurkan sebanyak 13 album. Jika berbicara sumbangsih, maka The Cure dan Robert Smith telah banyak mempengaruhi lanskap musik rock. Tak heran beragam band kancah alternative rock sampai hari ini menjadikan sosok Robert Smith sebagai pengaruh terbesar mereka.

Tak hanya itu, Robert Smith juga menjadi inspirasi bagi kultur pop. Karakter gelap, suram, dan nyentrik dirinya menjadi inspirasi bagi karakter fiksi Edward Scissorhand yang dibintangi aktor Johnny Depp. Konon kabarnya sang sutradara Tim Burton sempat mengajak Smith untuk tampil di dalam filmnya tersebut. Tak cuma Burton, penulis novel dan komik Neil Gaiman juga menjadikan Smith sebagai inspirasi untuk salah satu karakternya bernama Dream dalam serial komik The Sandman.

Melewati karier bermusik lebih dari empat dekade bukanlah perkara mudah. Robert Smith telah membuktikan hal itu. Ia adalah frontman yang paling setia pada bandnya. Tak heran jika dirinya diganjar penghargaan ‘Godlike Genius Award’ oleh NME di tahun 2009. Kendati usianya hampir berkepala enam, Robert Smith masih konsisten mempertahankan karakter gothic-nya dengan rambut acak-acakan serta tak lupa eyeliner hitam yang telah puluhan tahun melekat di matanya.



    0 Comments

Latest News

1  Mike Patton: Vokalis Seribu Suara
Mike Patton: Vokalis Seribu Suara

Michael Allan Patton, atau yang biasa dipanggil Mike Patton, merupakan seorang penyanyi-penulis...