Prince: Lika-Liku Sang Pangeran Flamboyan

  • By: OGP
  • Jumat, 10 August 2018
  • 1739 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

I don’t really care so much what people say about me because it usually is a reflection of who they are...” – Prince

Belantara musik seumpama lautan. Di balik luasnya hamparan samudera, seolah tak pernah kehabisan kekayaan laut di dalamnya. Sama seperti halnya lanskap musik yang tak pernah berhenti memasok eksponen kelas wahid di tiap generasinya. Jika berbicara tentang dunia musik, maka tak sah rasanya jika tak menunjuk sosok jenius seperti Prince sebagai salah satu juru selamat dunia musik.

Prince merupakan musisi nyentrik nan unik. Bisa dibilang kemunculan musisi sepertinya tentu langka akan terjadi lagi. Mungkin kita takkan pernah melihat reinkarnasi musisi bertalenta seperti halnya Prince. Ia tak ada duanya, dan sejatinya takkan pernah tergantikan. Tak cukup hanya modal bermusik saja, lebih dari itu, Prince pun mahir dalam berjoget ria dan berlakon dalam film. Sejak dari itu, Prince pun lekat dengan panggilan artis serba bisa. Ia dapat melakukan tugas-tugasnya dengan sangat baik

Dia tak sekadar hebat dalam memainkan dawai gitar, Prince juga seorang mastermind sekaligus multi-intrumentalis kelas kakap. Beragam instrumen musik ia kuasai dengan handal. Dalam album debut For You (1978), Prince mampu memainkan sebanyak 27 instrumen meliputi kibor, klarinet, bass, drum, hingga bongo. Dalam penggarapan album tersebut, Prince turut merangkap sebagai musisi, produser, sekaligus arranger musik.

Prince sendiri terkenal akan kejeniusan dan daya kreativitasnya dalam meramu musik. Prince melebur beragam lingkup musik seperti funk, rock, R&B, soul, disco, psychedelic, blues, dan pop. Oleh karenanya, muncul ‘demam’ musik baru bernama ‘Minneapolis Sound’ pada penghujung 70-an. Minneapolis Sound memasukkan elemen-elemen funk, rock, R&B, sampai synth pop.

Selama berkiprah lebih dari empat dekade, Prince juga dikenal produktif dalam menelurkan karya-karya musik. Tak kurang sebanyak 39 album telah ia lepas. Dan hebatnya lagi, pria flamboyan ini meneken kontrak rekaman dengan label raksasa Warner Bros Records di usianya yang baru menginjak 17 tahun.

Terlahir dengan nama Prince Rogers Nelson pada 7 Juni 1958, di sekitar pemukiman Minneapolis, Minnesota, AS. Prince merupakan putra dari pasangan musisi jazz John L. Nelson (Prince Rogers) dan Mattie Della. Diberi nama ‘Prince’ lantaran sang ayah mengharapkan anaknya kelak bisa mendapatkan segalanya di dunia, layaknya seorang ‘pangeran’.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sedari kecil bakat musik yang dimiliki Prince turun langsung dari kedua orang tuanya. Di usianya yang baru menginjak 7 tahun, Prince kecil sudah piawai menciptakan sebuah lagu berjudul “Funk Machine”, yang dibuat hanya dengan bermodalkan piano usang milik sang ayah.

Kendati demikian, Prince mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan dibanding teman sebayanya. Seperti yang ditulis oleh Touré di buku otobiografi I Would Die 4 U: Why Prince Became an Icon (2013). Kedua orang tua kandungnya memutuskan bercerai ketika Prince berusia 7 tahun, lantaran sering mengalami cekcok dalam biduk rumah tangga mereka. Bahkan tak jarang sang ayah sering memukuli ibunya tepat di depan mata Prince.

Pasca perceraian, Prince memilih tinggal bersama dengan ibunya, dan menikah lagi. Apesnya, perlakuan ayah tirinya tak jauh berbeda dengan ayah kandungnya. Dikabarkan Prince sering mengalami kekerasan yang dilakukan ayah tirinya. Sepenggal kisah traumatik masa kecilnya itu lalu ditulis ke dalam tembang bernuansa funk melodius berjudul “Papa”, yang masuk di dalam album Come (1994).

Seiring berjalannya waktu, Prince tumbuh menjadi sosok remaja bertalenta di bidang musik. Bakatnya pun mulai terendus oleh label Warner Bros. Di usia 17 tahun, Prince meneken kontrak dengan salah satu label rekaman raksasa tersebut. Selang beberapa tahun kemudian, Prince akhirnya menetaskan album perdananya, For You pada April 1978 lalu. Di dalam album ini memuat single-single penting, di antaranya “Soft and Wet” dan “Just as Long as We’re Together”. Menariknya, Prince menciptakan seluruh materi di album ini dengan tangannya sendiri, terkecuali “Soft and Wet” yang dibuat bersama sang produser Chris Moon.

Masuk ke dekade 80-an. Belantika musik turut melahirkan bibit-bibit bintang lima seperti Madonna dan Michael Jackson. Dan tak diragukan lagi, nama Prince masuk ke dalam daftar sakral tersebut. Bisa dibilang era 80-an merupakan era keemasan pria vegetarian itu. Setelah produktif melepas beberapa album, puncak ketenaran Prince adalah ketika ia sukses meluncurkan magnum opus Purple Rain (1984), yang juga merupakan judul film yang dibintanginya pada tahun yang sama. Opus megah ini memadukan elemen rock, blues, gospel, dan pop jadi satu kesatuan.

Album Purple Rain meledak di pasaran musik internasional. Mahakarya ini terjual lebih 13 juta kopi di Amerika Serikat, serta jadi karya Prince paling komersil sepanjang dirinya berkarier. Hebatnya Purple Rain mampu menjadi pemuncak di tangga Billboard selama 15 pekan lamanya, mengalahkan rivalnya, Michael Jackson yang kala itu menelurkan album yang tak kalah fenomenal, Thriller. Di album ini turut menyumbangkan nomor-nomor penting nan catchy seperti “Purple Rain”, “When Doves Cry”, “Let’s Go Crazy”, hingga “I Would Die 4 U”.

Sementara itu, film Purple Rain berkisah tentang lika-liku perjalanan hidup seorang musisi muda yang merasa jenuh dengan kehidupannya, di mana ia merasa tertekan dengan keadaan keluarganya yang berantakan dan harus bersaing dengan penyanyi lain. Jika dikaitkan, maka plot pada film sebenarnya mengacu pada pengalaman pribadi yang dialaminya di dunia nyata. Meski berbujet rendah, film ini tergolong sukses dengan menggondol satu piala Oscar untuk kategori ‘Best Original Song Score’ di tahun 1984.

Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin menerpa. Di tengah puncak kejayaannya, Prince sempat tersandung masalah hukum. Salah satu nomor andalan miliknya, “Darling Nikki” dinilai memancing kontroversi di jagat musik. Istri eks Wakil Presiden AS Al Gore, Tipper Gore sepakat membentuk Parents Music Resource Center (PMRC), lantaran putrinya yang baru berusia 12 tahun kala itu mendengarkan “Darling Nikki” yang memuat konten seksual. Pada akhirnya lembaga ini memiliki kehendak kepada industri musik untuk menaruh label peringatan ‘Parental Advisory: Explicit Lyrics’, yang sampai saat ini kita kenal dengan logo ikonis berwarna hitam putihnya tersebut.

Sukses dengan Purple Rain dan segala kontroversinya, Prince tetap produktif merilis album. Namun bukan Prince namanya kalau tak memancing pro kontra dengan segala tingkah anehnya. Pada tahun 1987, Prince berencana melepas album keenam belasnya, The Black Album. Ketika Warner Bros baru mencetak 500 ribu keping, tak ada angin tak ada hujan Prince pun meminta pihak label menarik edaran karya anyarnya itu. Usut punya usut, Prince melakukannya karena mendapat mimpi aneh kalau album tersebut telah disisipi roh-roh jahat!

Tak hanya sampai di situ saja, di tahun 1993, Prince kembali berulah dengan mengubah nama panggungnya menjadi sebuah simbol representasi cinta. Ia ingin menerobos sekat-sekat gender. Simbol yang tak bisa diucapkan ini merupakan gabungan dari simbol pria dan wanita. Alhasil, media pun dibuat kewalahan dengan aksinya yang tak masuk akal itu. Akhirnya demi penulisan, pihak-pihak media sepakat untuk menyebut pria eksentrik ini dengan ‘The Artist Formerly Known As Prince” atau disingkat TAFKAP.

Sebagian oknum menganggap penggantian nama Prince adalah upaya untuk mendongkrak kembali popularitasnya yang mulai sedikit menurun. Namun di sisi berlainan, banyak yang mempercayai kalau tindakannya itu adalah bentuk pemberontakan terhadap pihak Warner Bros, yang dianggap Prince telah berlaku korup kepada artis yang dinaungi. Pada akhirnya, TAFKAP kembali menggunakan kembali nama panggung Prince di tahun 2000.

Selama puluhan tahun berkiprah, entah sudah berapa panggung yang telah dimainkan Prince. Namun dari sekian banyak panggung, konser tengah babak Super Bowl 2007 adalah puncak panggung terbaik yang pernah disajikan Prince kepada penonton. Bagaimana tidak? Lagu “Purple Rain” secara megah dikumandangkan saat hujan turun dari langit yang tadinya cerah. Bahkan segelintir pengamat musik menyebut jika penampilan Prince di Super Bowl adalah yang terbaik yang pernah ada di event olahraga tersebut.

Awan kelabu menyelimuti langit pada Kamis, 21 April 2016, Prince ditemukan telah meninggal dunia di usia 57 tahun di kediamannya, Paisley Park, tempat sekaligus studio miliknya berada. Hasil autopsi mengatakan jika dirinya overdosis fentanyl. Sebelum mangkat, Prince diketahui memang beberapa kali mengunjungi rumah sakit sekitar. Ia menderita flu hebat selama berminggu-minggu, yang memaksanya untuk membatalkan konser. Dikabarkan sebelum meninggal, Prince hanya memiliki bobot 50 kilogram.

Dunia pun berduka. 2016 seakan menjadi tahun menyedihkan bagi khalayak musik. Beberapa bulan sebelumnya, David Bowie telah lebih dulu dipanggil ke alam baka, setelahnya giliran sang virtuoso Prince. Kematiannya memang menyisakan duka mendalam bagi kalangan fans. Demi mengenang kematiannya, warga-warga di Minneapolis sepakat menyanyikan tembang-tembang andalan sang pahlawan kota tanpa henti. Bahkan Presiden AS kala itu, Barack Obama turut menyatakan perasaan duka mendalamnya ditinggal salah satu ikon musik yang memengaruhi peta musik secara luas.

Sepanjang berkiprah di lanskap musik, Prince berhasil menggondol 7 piala Grammy Awards, 1 Golden Globe Award dan Academy Award. Pemilik gitar ‘Love Symbol’ ini juga sukses menjual lebih dari 100 juta keping album-albumnya ke segala penjuru dunia dan bertengger masuk ke dalam deretan Rock and Roll Hall of Fame di tahun 2004. Pria yang sempat memadu cinta dengan Madonna ini juga menempati urutan ke-27 dalam jajaran ‘100 Greatest Artists of All Time’ versi Rolling Stone.



    0 Comments

Latest News

1  Josh Homme: ‘Ginger Elvis’ dari Gurun Pasir
Josh Homme: ‘Ginger Elvis’ dari Gurun Pasir

Terlahir dengan nama Joshua Michael Homme, ia adalah seorang gitaris, vokalis,...