Nick Drake: Elegi Kegelisahan Jiwa si Bintang Terbuang

  • By: OGP
  • Kamis, 26 July 2018
  • 9456 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Bicara tentang kancah musik folk modern, tak lengkap jika tak memasukkan sosok ‘mitos’ bernama Nick Drake. Tak banyak yang menyimpan rekam jejak si pria penyendiri ini. Sampai detik ini, segala kisah-kisah tentangnya masih terkunci rapi jadi misteri. Atmosfer dingin dan muram adalah apa yang diingat publik dari sosok misterius ini. Nick Drake tak meninggalkan seberkas memori pun tentang dirinya.

Sungguh malang apa yang dialami sosok berbakat nan jenius bernama asli Nicholas Rodney Drake. Ia bahkan tak sempat mengecap nikmat duniawi lewat jerih payahnya. Drake memutuskan mangkat sebelum karya-karyanya sempat dikenal luas dan diakui para insan musik. Ironis memang, semasa hidupnya pria melankolis ini justru tak mendapat sedikit pun bentuk apresiasi maupun penghargaan yang diterima. Ia malah tenggelam dalam pekat benak yang menghantuinya.

Banyak yang beranggapan bahwa Nick Drake menciptakan musik yang melampaui zamannya. Ia seperti terlahir di waktu yang tak tepat. Tak banyak orang di masa itu yang bisa dengan tepat mengapresiasi dan menyerap musik yang ia ciptakan. Bagi awam kala itu, musik itu harusnya agresif, rumit, berontak, fashionable, ‘teler’, dan punya nilai menjual seperti halnya The Doors, Pink Floyd, The Beatles, Jimi Hendrix, The Rolling Stones dll.

Karya Nick Drake adalah antitesis dari musik-musik populer saat itu. Pada masa keemasan British Invasion dan demam psychedelic, dia justru memetik lembut dawai gitar kayunya sembari bernyayi lirih dan bermetafor tentang bulan, bintang, matahari, dan seisi alam. Mendengarkan Nick Drake selayaknya menikmati lantunan syair sarat filosofis. Dia berapatis ria dengan tak membicarakan tentang hal-hal masif seperti pemberontakan ataupun politik.

Nicholas Rodney Drake dilahirkan pada 19 Juni 1948, di Rangoon, Burma (Myanmar). Ia adalah putra dari pasangan Rodney Shuttleworth Drake dan Mary Lloyd. Di tahun 1950, Nick dan keluarganya kembali ke tanah Inggris. Sedari kecil, Nick Drake adalah bocah introvert nan pemalu di lingkungan sekolahnya. Secara akademis ia cukup berprestasi dibanding teman-teman sebayanya. Namun ada satu hal yang tak disukainya, hal itu adalah pusat perhatian. Drake terang-terangan mengakui kalau ia tak begitu nyaman dengan tatapan asing yang mengintimidasi.

Pengaruh kakak perempuannya yang juga seorang aktris di dunia hiburan, Gabrielle Drake, pun mengantarkannya mulai mempelajari berbagai macam instrumen musik seperti piano, klarinet, saksofon, hingga gitar. Di masa akhir sekolahnya, Nick mulai mendalami seluk beluk gitar. Karier musikalnya bermula ketika ia memutuskan kuliah di jurusan Sastra Inggris, di Cambridge University pada medio 60-an. Kecintaannya terhadap dunia sastra ikut berpengaruh pada struktural lirik-lirik yang diciptakannya.

Pada medio 1969, di usianya yang baru menginjak 21 tahun, ia merilis album debut bertajuk Five Leaves Left. Secara konsep musikal, album folk ‘futuristik’ ini bagai obat penawar bagi demam hippies yang tengah mewabah kala itu. Materi-materi di dalamnya tak sedikitpun berbicara tentang pergolakan sosial, Drake seolah acuh dan tak peduli dengan namanya revolusi dan peperangan.

Five Leaves Left digarap saat Nick Drake masih menjalani studi kuliah di Cambridge. Album ini bisa dikatakan sebagai salah satu pencapaian estetik tertinggi di kancah folk. Hampir seluruh materi di album debut ini diiringi dengan aransemen orkestra yang secara megah dan surgawi. Petikan gitar Nick Drake luar biasa lembut dan menenangkan. Namun sayang, album ini tak meraih banyak atensi publik maupun media seperti yang ia harapkan. Kendati demikian, maju beberapa dekade ke depan, album ini kokoh bertengger di urutan ke-280 dalam daftar album terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone.

Suasana berbeda ditemukan di album lanjutannya, Bryter Lyter (1970). Jika di album perdana dicekoki dengan kesan folk orkestra yang megah, maka di album sophomore ini para pendengar diberi ‘dosis’ kesenduan yang cukup akut. Nick Drake menyilang folk futuristiknya dengan sentuhan jazz yang mewah. Bila ditilik dengan seksama maka Bryter Lyter adalah salah satu album dengan aransemen terbaik yang pernah ada–tanpa bermaksud menglorifikasikan Nick Drake.

Tetapi ‘ujian’ lagi-lagi menghampiri si pria penyendiri ini. Lepas meluncurkan album keduanya tersebut, Nick Drake mendapat berbagai komentar pedas. Bahkan seorang ekspertis musik menyebut Bryter Lyter sebagai ‘Awkward mix of folk and cocktail jazz’. Komentar ini bukan tanpa alasan, mengingat pasar musik kala itu lebih subjektif memilih karya-karya dengan teknikal hebat nan kompleks selayaknya Pink Floyd dan Led Zeppelin.

Meski demikian, di album ini Nick Drake kedatangan musisi tamu tenar, yang tak lain tak bukan adalah personel Velvet Underground, John Cale. Di sini Cale menyumbang dua lagu yang memukau, yakni “Fly” dan “Northern Sky”. John Cale turut memainkan dentingan piano yang menambah kesempurnaan part petikan gitar Nick Drake. Kemunculan Cale di dalam proyek ambisius ini tentu menanggalkan sebuah pertanyaan besar. Mengapa sosok dedengkot Velvet Underground ini rela berkontribusi demi seorang pria muda pemalu? Jawabannya adalah karena sebenarnya John Cale telah mengendus potensi luar biasa di dalam diri Nick Drake.

Namun lagi dan lagi industri musik tak memperhitungan dan memandang sebelah mata Nick Drake, sehingga nasib Byter Lyter tak ada bedanya dengan album debutnya. Kurangnya atensi dan distribusi yang tak efektif membuat Drake makin hanyut dalam kekecewaan. Klimaksnya adalah saat sang produser, Joe Boyd bangkrut dan menjual perusahaan rekamannya. Merasa amat bersalah, Nick Drake semakin menutup diri pada dunia dan mulai bersahabat baik dengan mariyuana, LSD, dan bermacam obat anti depresan sebagai bentuk pelariannya.

Tak ingin tenggelam dalam kerapuhan, Nick Drake pun mulai menata kehidupannya kembali. Ia tahu betul, pembuktian adalah salah satu jalan pintas untuk menebus dosanya. Di suatu hari ia merencanakan produksi album yang ia anggap sebagai persembahan terakhir. Tak lama album ketiga bertajuk Pink Moon (1972) pun dirilis. Uniknya album ini digarap dalam keadaan mabuk berat, tetapi malah menghasilkan musik yang teramat jujur dan murni. Pink Moon bertransformasi jadi album tergelap sekaligus terdingin yang pernah dimiliki Drake. 

Artwork sureal yang dibuat oleh seniman bernama Michael Trevithick ini turut merepresentasikan kegetiran jiwa Nick Drake. Segelintir pengamat musik beranggapan jika Pink Moon merupakan wujud dari ekspresi murni depresi seorang musisi muda yang gelisah karena karya-karyanya tak ‘dianggap’. Sederet tembang-tembang berkualitas menghiasi repertoar. Di antaranya “Pink Moon”, “Place to Be”, hingga “Things Behind the Sun”

Materi-materi di dalamnya juga tergolong memiliki durasi singkat, serta berhasil mendedah sisi melankolis dan tergelap seorang Nick Drake. Tetapi di sisi berseberang, Pink Moon sukses menampilkan puncak keindahan dalam sebuah karya musikal. Tak banyak publik yang tahu, bahwa semasa sebelum dirinya menciptakan Pink Moon, Nick Drake memutuskan mengisolasi dirinya dari lingkup sosial. Ia tenggelam dalam benaknya, dan kerap mengalami depresi akut. Sejak itu, dia pun mulai rutin bolak-balik berkunjung ke psikiater guna mengobati jiwanya yang dilanda gundah gulana.

Di pagi buta pada 25 November 1974, Nick Drake ditemukan sudah tak lagi bernyawa di kamarnya akibat overdosis amitriptyline, sebuah obat anti depresan, tepat lima bulan lebih enam hari setelah ulang tahunnya yang ke-26. Tubuh kakunya itu ditemukan oleh sang ibu. Kematian Nick Drake seolah menjadi epilog dalam kisah hidupnya yang amat sensitif dan terbelenggu oleh pikirannya sendiri. Bahkan di hari terakhirnya, buku The Myth of Sisyphus  karya Albert Camus berada di sampingnya. Ditengarai karya Camus tersebut jadi inspirasinya untuk mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Nick Drake adalah seorang ‘bintang’ sejati. Andai saja ia bisa lebih bersabar sedikit, tentu saat ini namanya bisa bersanding sejajar dengan Bob Dylan, Woody Guthrie, dan Leonard Cohen. Namun takdir berkata lain. Ia dengan yakin mantap memilih jalan sunyi yang dikendakinya. Meski telah menjadi mitos bagi sebagian orang, Nick Drake juga berhasil menginspirasi sejumlah musisi-musisi rock berpengaruh lainnya.

Perpaduan misterius dan muram menjadi acuan utama bagi para musisi goth seperti Robert Smith atau punggawa-punggawa post-punk saat itu. Robert Smith, pentolan The Cure, menamai grupnya karena terilhami dari lirik lagu Nick Drake, “Time Has Told Me”, jauh setelah hari kematian si pria penyendiri itu.

Namun terlepas dari segala keputusasaan seorang Nick Drake, sisi gelap dirinya bukanlah sesuatu murni yang dibuat-buat, melainkan berasal dari pengabaian mutlak seorang individu di lingkungan sosialnya berada. Nick Drake mengajarkan pada kita bahwa untuk selalu berjuang mempertahankan nilai idealisme dalam seni, kendati harus berkali-kali menelan kekecewaan, yang berujung tanpa pengakuan maupun apresiasi dari sesama individu lainnya.



    2 Comments
  • aris@bymankind.com
    • aris@bymankind.com
    • 6 months ago
    keren
  • miftahariss15@gmail.com
    • miftahariss15@gmail.com
    • 6 months ago
    mantap

Latest News

1  Kevin Parker: Si Jenius Arsitek Psychedelic Modern
Kevin Parker: Si Jenius Arsitek Psychedelic Modern

Dalam kurun satu dekade terakhir, tak banyak musisi (rock) yang punya andil besar dalam...